
KLUNGKUNG – Hubungan Indonesia dan India dinilai bukan sekadar kerja sama diplomatik antardua negara, tetapi telah terjalin sebagai persahabatan peradaban yang berakar sejak ribuan tahun silam melalui budaya, spiritualitas, pendidikan, hingga nilai-nilai kemanusiaan. Pandangan tersebut disampaikan pendiri Ashram Gandhi Puri, Ida Rsi Putra Manuaba, yang selama puluhan tahun aktif membangun jejaring persahabatan antarmasyarakat kedua negara.
Ida Rsi Putra Manuaba menuturkan, kedekatannya dengan India bermula saat menempuh pendidikan di negara tersebut pada 1992. Pengalaman itu memberinya pemahaman bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kemajuan ekonomi dan teknologi, tetapi juga dari kemampuannya menjaga nilai-nilai luhur warisan leluhur.
“Di India saya belajar bahwa peradaban yang besar dibangun oleh karakter, pelayanan, dan kesadaran untuk hidup bagi sesama. Nilai-nilai itu yang kemudian saya bawa dalam setiap pengabdian di Indonesia,” ujarnya dalam press realese yang diterima wartabalionline.com, Jumat (10/7/2026).
Semangat tersebut kemudian diwujudkan melalui pendirian Ashram Gandhi Puri pada 6 September 1997. Menurutnya, lembaga itu hadir sebagai ruang untuk membangun jembatan persahabatan antarbangsa melalui pendidikan, pelayanan sosial, pertukaran budaya, dan penguatan nilai-nilai kemanusiaan.
Ia menjelaskan, Indonesia dan India memiliki banyak kesamaan sejarah dan budaya. Salah satu ikatan terkuat tercermin dari kisah Ramayana yang hidup di kedua negara. Kota Ayodhya di India dikenal sebagai simbol dharma dan keteladanan Sri Rama, sementara Yogyakarta menjadi salah satu pusat pelestarian kisah tersebut melalui Candi Prambanan yang menyimpan relief Ramayana sebagai warisan budaya dunia.
“Bagi saya, hubungan Ayodhya dan Yogyakarta bukan hanya hubungan sejarah, tetapi ikatan batin yang diwariskan melalui nilai-nilai Ramayana. Integritas Sri Rama, kesetiaan Dewi Sita, dan pengabdian Hanuman merupakan ajaran universal yang tetap relevan hingga sekarang,” katanya.
Hubungan kedua negara juga semakin diperkuat melalui berbagai dialog budaya dan diplomasi masyarakat. Pada 2024, Ida Rsi Putra Manuaba berkesempatan bertemu dengan Gubernur Uttar Pradesh Anandiben Patel dan Chief Minister Uttar Pradesh Yogi Adityanath di India. Pertemuan tersebut dimanfaatkan untuk berdiskusi mengenai penguatan hubungan Indonesia dan India melalui kerja sama budaya, pendidikan, yoga, serta pelayanan kepada masyarakat.
Menurutnya, diplomasi antarmasyarakat atau people to people network memiliki peran penting dalam mempererat hubungan kedua bangsa. Di tengah dinamika global, masa depan dunia tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi maupun politik, tetapi juga oleh kemampuan membangun saling pengertian dan kerja sama lintas budaya.
Melalui Gerakan Shantisena dan berbagai program Ashram Gandhi Puri, pihaknya terus mendorong lahirnya generasi muda yang memiliki karakter kuat, semangat melayani, dan kepedulian terhadap sesama. Pendidikan, menurutnya, harus mampu membentuk manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial.
Ia menambahkan, nilai-nilai yang diwariskan oleh Mahatma Gandhi tentang pelayanan, ajaran Swami Vivekananda mengenai kebangkitan manusia, serta filosofi dharma yang hidup dalam tradisi India dan Nusantara menjadi fondasi penting dalam membangun perdamaian dan persahabatan dunia.
“Ketika dunia masih diwarnai berbagai perbedaan dan konflik, Indonesia dan India justru menunjukkan bahwa peradaban besar dibangun melalui penghormatan terhadap keberagaman, pelestarian budaya, dan persahabatan lintas bangsa,” ujarnya.
Ia berharap hubungan Indonesia dan India terus berkembang, tidak hanya melalui kerja sama pemerintah, tetapi juga melalui interaksi masyarakat, pertukaran pelajar, kegiatan kebudayaan, hingga kolaborasi sosial yang semakin mempererat persaudaraan kedua negara.
“Semangat Vasudhaiva Kutumbakam atau dunia adalah satu keluarga menjadi pesan yang relevan bagi Indonesia dan India untuk terus memperkuat persahabatan serta bersama-sama membangun peradaban yang damai dan berkeadaban,” pungkasnya. (*)








