
KLUNGKUNG-Mengelola sampah rumah tangga perlu kesadaran banyak pihak, agar sampah tertangani atau terkelola dengan baik. Pengelolaan sampah juga membutuhkan kreativitas.
Sampah yang dikelola dengan kreativitas bisa menghasilkan berbagai produk, seperti pupuk, peralatan rumah tangga juga produk seni. Salah seorang warga Nusa Penida, Dewa Pastia, adalah salah seorang yang peduli dengan sampah yang ada di sekitar lingkungannya.
Dewa Pastia mengumpulkan sampah organik maupun sampah plastik, kemudian sampah itu dibersihkan dan ‘disulap’ menjadi karya seni instalasi. Sampah itu ia buat jadi anyaman/ulatan berbentuk ikan gurita berwajah boma. Dewa Pastia memadukan unsur laut dan gunung.
Menurutnya, laut dan gunung selain sebagai simbol kemakmuran juga simbol dualitas kehidupan. Dualitas itu saling mengisi dan senantiasa mengiringi kehidupan semesta hidup.
“Instalasi seni ini adalah bagian dari kreasi saya bersama STT Sila Jaya dalam menyambut Hari Raya Galungan. Tema yang diusung hulu teben, hlu teben juga bagian dari dualitas,” kata Dewa Pastia, alumnus seni rupa Unhi Denpasar ini, Senin (6/6).
Kata dia, selain ingin menyalurkan seni bersama anggota sekaa truna, upaya itu ia lakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan setempat. Sekaligus kegiatan itu diharapkan mendorong kesadaran masyarakat ikut peduli terhadap pengelolaan sampah.
“Saya berharap dari karya instalasi seni ini memberikan spirit, menggugah kita makin peduli terhadap lingkungan, mulai dari hal kecil memperhatikan sampah di sekitar kita,” tandas Dewa Pastia.
Instalasi seni Dewa Pastia dibuat menyambut hari raya Galungan dan Kuningan sekaligus mendukung kegiatan bazar dari STT. Sila Jaya, Banjar Batununggul, Desa Adat Dalem Setra Batununggul, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung. (yan)








