
DENPASAR – Keberadaan pers dalam mengawal Pesta Kesenian Bali XLVIII Tahun 2026 dinilai tidak hanya sebatas mempublikasikan jalannya pertunjukan. Selama puluhan tahun, media juga telah memberikan berbagai catatan kritis yang menjadi bagian penting dalam evaluasi sekaligus perkembangan Pesta Kesenian Bali dari tahun ke tahun.
Hal tersebut mengemuka dalam Diskusi Budaya bertajuk Peran Media dalam Publikasi dan Dokumentasi Pesta Kesenian Bali (PKB) yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia Bali bersama Komunitas Wartawan Budaya Bali di Gedung Perpustakaan Taman Budaya Bali, Denpasar, Senin (6/7/2026).
Dewan Kehormatan Provinsi PWI Bali, IGM Dwikora Putra, menegaskan media memiliki tanggung jawab lebih besar dibanding sekadar memberitakan rangkaian kegiatan PKB. Pers juga harus menjadi penjernih informasi sekaligus memberikan evaluasi terhadap penyelenggaraan festival budaya terbesar di Bali tersebut.
Menurut Pemimpin Redaksi Harian Warta Bali itu, peliputan PKB idealnya dilakukan secara menyeluruh, mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan hingga evaluasi setelah kegiatan berakhir. Dengan demikian, media tidak hanya menghasilkan dokumentasi visual, tetapi juga menghadirkan catatan intelektual yang dapat menjadi referensi bagi penyelenggaraan PKB pada masa mendatang.
“Jangan hanya berhenti pada potret kegiatan. Yang lebih penting adalah mengangkat dinamika kebudayaan sehingga PKB memiliki dokumentasi intelektual yang bisa menjadi referensi pada masa mendatang,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan media arus utama harus tetap menjadi rujukan masyarakat di tengah maraknya informasi yang beredar di media sosial. Pers dituntut menyajikan informasi yang telah terverifikasi serta tidak ikut menyebarkan informasi prematur, seperti klaim pemenang sebelum pengumuman resmi.
Sementara itu, Guru Besar Universitas Udayana, Nyoman Darma Putra, menilai media selama ini telah berkontribusi besar dalam mendokumentasikan perjalanan PKB. Berbagai pemberitaan yang dihasilkan insan pers menjadi arsip penting perkembangan seni dan budaya Bali.
“Kalau tidak ada pemberitaan media, kita akan kehilangan banyak catatan tentang perjalanan PKB. Peran media sudah sangat jelas dan tidak perlu diragukan lagi,” katanya.
Ia menambahkan, dokumentasi kebudayaan masih perlu diperkuat melalui dukungan berbagai pihak, termasuk sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), sehingga publikasi dan dokumentasi karya seni dapat berlangsung lebih optimal.
Ketua PWI Provinsi Bali, I Wayan Dira Arsana, yang juga Pemimpin Redaksi Bali Post, menegaskan jurnalis di Bali memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menjaga keberlanjutan budaya melalui karya jurnalistik yang berkualitas. Menurutnya, media tidak hanya menjadi penyampai informasi, tetapi juga berperan mengawal eksistensi budaya Bali dengan menghadirkan pemberitaan yang kritis, berimbang, dan bertanggung jawab.
Melalui sinergi antara PWI Bali dan Kawiya Bali, ia berharap media terus memperkuat fungsi publikasi, dokumentasi, sekaligus memberikan masukan konstruktif bagi penyelenggaraan PKB agar semakin berkualitas pada tahun-tahun mendatang. (*)








