
DENPASAR – Sekaa Gong Dharma Swara yang bermarkas di New York Amerika Serikat menghadirkan pertunjukan penuh energi dan eksplorasi musikal di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-48 di Panggung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Sabtu (4/6/2026) malam.
Penampilan ini menjadi salah satu suguhan yang menyedot perhatian penonton melalui kepiawaian teknik, kekuatan kolaborasi lintas budaya, serta interpretasi baru terhadap tradisi gamelan Bali.
Sejak awal pertunjukan, puluhan penabuh asing tampil solid dengan teknik permainan panggul yang presisi dan dinamis. Peran juru ugal sebagai pemimpin gamelan terlihat menonjol dengan ketegasan serta ketangkasan memimpin alur musikal, menghadirkan transisi garapan yang halus namun bertenaga.
Tidak hanya menyajikan tabuh instrumental, Dharma Swara juga menghadirkan beberapa garapan tari yang memperkuat dimensi dramatik pertunjukan.
Koordinator Sekaa Gong Dharma Swara, Victoria Lo Mellin, menjelaskan bahwa persiapan pertunjukan ini telah dilakukan jauh hari, bahkan sejak sekitar satu tahun sebelumnya. Latihan intensif hingga pementasan di berbagai lokasi di New York menjadi bagian penting dalam proses pematangan karya.
“Kami melakukan banyak persiapan bahkan jauh sebelum hari ini. Sekitar setahun lalu kami sudah mulai latihan dan juga melakukan beberapa pementasan di New York,” ujarnya.
Dharma Swara juga tampil menggunakan perangkat gamelan semara dana yang dibuat oleh Pande Wayan Suparta, yang merupakan pesanan dari Artist-in-Residence mereka, I Gusti Nyoman Darta (Gusti Komin).
Instrumen tersebut direncanakan rampung sebelum musim panas 2026 dan menjadi bagian penting dalam eksplorasi musikal kelompok ini.
Deretan karya yang ditampilkan mencerminkan spektrum artistik yang luas. Pagar Ayu, hasil kolaborasi Gusti Komin dan Shoko Yamamuro, menafsir ulang tradisi penyambutan Bali dengan pendekatan kontemporer yang menyoroti identitas diaspora, perubahan konsep gender, serta kebebasan ekspresi artistik.
Karya Lambda Serpentis oleh Gusti Komin menghadirkan interpretasi modern dari tabuh lelambatan klasik, terinspirasi dari bintang terang yang dapat dilihat dari Bali hingga New York.
Sementara, Nomaden karya Dewa Alit merefleksikan pengalaman hidup berpindah-pindah sang komposer, dengan eksplorasi laras lima dan tujuh nada serta struktur ritmis yang tidak konvensional.
Karya Nor’easter garapan Joel Mellin, dengan koreografi Ilona Bito dan Ndaru Kartinganingsih, mengangkat imajinasi tentang kekuatan badai Atlantik Utara melalui perspektif kekaguman seorang anak. Adapun Sapta Bhuana karya I Gusti Bagus Suarsana tetap menjadi representasi klasik “tujuh suara dunia” yang telah diwariskan lintas generasi di kelompok Abdi Budaya, Perean, Tabanan.
Sebagai penutup, Wiranata ditampilkan sebagai tarian tradisional yang mempertegas akar estetika Bali dalam keseluruhan pertunjukan.
Victoria menegaskan bahwa Dharma Swara tidak hanya berfokus pada pelestarian, tetapi juga pengembangan ruang kreatif bagi para penabuh dan penari dari berbagai latar belakang.
Menurutnya, banyak anggota kelompok yang sebelumnya tidak memiliki pengalaman musik maupun tari Bali, namun berkembang melalui proses latihan intensif.
“Seni itu tidak bisa dibatasi oleh latar belakang. Banyak penampil kami yang awalnya belum pernah memainkan musik atau menari, tetapi melalui latihan dan pengalaman bersama, mereka menemukan potensi artistiknya,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa Dharma Swara terus mengembangkan program pendidikan, termasuk kelas pemula bagi anak-anak sejak usia lima tahun untuk menumbuhkan kepercayaan diri, ritme, dan gerak sejak dini dalam suasana yang lebih bebas dan inklusif.
Penampilan Dharma Swara di PKB ke-48 ini tidak hanya menjadi ajang pertunjukan, tetapi juga ruang dialog budaya yang mempertemukan tradisi Bali dengan perspektif global dalam satu panggung yang dinamis dan reflektif.








