
BANGLI – Animo orang tua di Kabupaten Bangli untuk menyekolahkan anak berkebutuhan khusus (ABK) di SLB Negeri 1 Bangli terbilang cukup tinggi. Sayangnya, semangat tersebut terkendala jarak tempuh yang cukup jauh dari tempat tinggal.
Kepala SLB Negeri 1 Bangli, I Wayan Mudayana mengungkapkan, selama ini siswanya harus menempuh perjalanan berjam-jam ke sekolah yang berlokasi di Jalan Erlangga, Kecamatan Bangli.
“Beberapa siswa ada dari Desa Catur, Songan, hingga wilayah perbatasan Bangli-Karangasem. Mereka ke sekolah menggunakan angkutan pribadi,”kata I Wayan Mudayana,
Senin (6/7/2026).
Menurutnya, kondisi jarak tempuh itu menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga anak berkebutuhan khusus. “Meski demikian, kesadaran masyarakat untuk menyekolahkan anak ke SLB terus meningkat, bahkan siswa juga datang dari luar Kabupaten Bangli, seperti wilayah Muncan, Karangasem,”ungkapnya.
Sementara itu, untuk penerimaan murid baru, sudah tujuh orang yang mendaftar di SLB Negeri 1 Bangli.
“Kami masih membuka kesempatan bagi calon siswa yang belum mendaftar meskipun pendaftaraan secara resmi telah ditutup,”ucapnya.
SLB Negeri 1 Bangli memberikan pelayanan pendidikan kepada anak tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, dan autisme.
Setiap calon siswa diwajibkan membawa rekomendasi dokter sesuai jenis disabilitas sebagai dasar pelaksanaan asesmen untuk mengetahui kondisi riil setiap anak.
“Hasilnya akan menjadi acuan bagi guru dalam menentukan metode pembelajaran, pendampingan, hingga bentuk intervensi yang paling sesuai,”ungkapnya.
Sementara, Pengawas Pendidikan Khusus Disdikpora Bali Sang Kompyang Arda mengatakan, pelaksanaan SPMB di SLB di Provinsi Bali disesuaikan dengan karakteristik masing-masing satuan pendidikan karena setiap ragam disabilitas membutuhkan penanganan yang berbeda.
“Untuk daya tampung SLB Negeri 1 Bangli hingga kini masih mencukupi sehingga masyarakat yang memiliki anak berkebutuhan khusus usia sekolah diharapkan segera mendaftar,”ujarnya.








