
KLUNGKUNG – Meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Nusa Penida belum menjamin perputaran ekonomi sektor akomodasi. Di tengah lonjakan kunjungan, tingkat hunian hotel justru masih rendah.
Kondisi ini menjadi ironi sekaligus sinyal bahwa perputaran ekonomi pariwisata di pulau tersebut belum dinikmati secara merata. Pelaku usaha perhotelan menilai persoalan utamanya bukan terletak pada minimnya jumlah wisatawan, melainkan pola perjalanan yang masih didominasi one day trip.
Wisatawan datang pagi hari, mengunjungi sejumlah objek wisata, lalu kembali ke Bali pada sore hari tanpa bermalam. Akibatnya, belanja wisatawan di sektor akomodasi, kuliner hingga hiburan lokal menjadi sangat terbatas.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Klungkung Putu Darmaya mengatakan, pola perjalanan tersebut tidak terlepas dari masih banyaknya jadwal penyeberangan kapal cepat hingga sore hari. Kondisi itu membuat wisatawan merasa tidak perlu menginap karena tetap memiliki kesempatan kembali ke daratan Bali pada hari yang sama.
“Penyeberangan masih sangat banyak sampai sore. Hal itu membuat tamu merasa nyaman untuk kembali menyeberang ke daratan sehingga memilih tidak menginap di Nusa Penida,” ujar Darmaya, Rabu (15/7/2026).
Fenomena tersebut, menurutnya, menjadi tantangan serius bagi pengembangan pariwisata Nusa Penida. Sebab, indikator keberhasilan destinasi wisata tidak hanya diukur dari jumlah kunjungan, tetapi juga dari lamanya wisatawan tinggal (length of stay) dan besarnya uang yang dibelanjakan selama berada di destinasi.
Semakin pendek masa tinggal wisatawan, semakin kecil pula manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat. Hotel kehilangan tamu, restoran kehilangan pelanggan makan malam, pelaku hiburan tidak memperoleh pasar, sementara usaha mikro yang menggantungkan pendapatan dari wisatawan juga ikut terdampak.
Bahkan pemerintah daerah yang mengandalkan pendapatan daerah dari Pajak Hotel dan Restoran (PHR) juga kena imbas.
Karena itu, PHRI mengusulkan adanya perubahan kebijakan retribusi wisatawan sebagai instrumen untuk mendorong wisatawan menginap. Darmaya mengusulkan agar wisatawan yang menginap diberikan insentif berupa pembebasan retribusi masuk kawasan wisata.
Sebaliknya, wisatawan yang hanya datang sehari tanpa menginap justru dikenakan retribusi lebih tinggi. Menurutnya, skema tersebut dapat menjadi stimulus agar wisatawan mempertimbangkan tinggal lebih lama di Nusa Penida sehingga manfaat ekonomi tersebar lebih luas.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa wacana kenaikan retribusi tidak bisa diterapkan begitu saja tanpa diikuti peningkatan kualitas layanan dasar.
“Bicara kenaikan retribusi tentu harus diimbangi dengan infrastruktur jalan yang memadai,” tegasnya.
Selain persoalan aksesibilitas, Darmaya juga menilai minimnya aktivitas hiburan pada malam hari menjadi penyebab lain rendahnya minat wisatawan untuk menginap. Setelah menikmati panorama pantai dan objek wisata alam pada siang hari, wisatawan tidak memiliki banyak pilihan aktivitas pada malam hari yang mampu memperpanjang lama tinggal mereka.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata Nusa Penida selama ini masih bertumpu pada daya tarik alam semata. Padahal, destinasi yang mampu mempertahankan wisatawan umumnya menawarkan pengalaman yang lebih lengkap, mulai dari atraksi budaya, pertunjukan seni, pusat kuliner malam, hingga aktivitas ekonomi kreatif yang hidup setelah matahari terbenam.
“Wisatawan memang terus berdatangan, tetapi nilai tambah ekonomi justru lebih banyak dinikmati daerah asal keberangkatan. Perlu ada kebijakan lebih konkret agar mampu mendorong wisatawan tinggal lebih lama di Nusa Penida,” demikian Putu Darmaya. (*)








