
DENPASAR – Perhelatan seni Bali Mega Rupa kembali hadir dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) tahun 2026. Pameran Bali Mega Rupa 2026 ini berlangsung dari tanggal 11 sampai dengan 25 Juli 2026.
Pameran ini sepenuhnya didedikasikan untuk mewadahi perkembangan seni rupa modern kontemporer, lengkap dengan segala kreasi cipta mumpuni serta inovasi terkini yang telah teruji.
Berlokasi di Gedung Kriya, Art Center, Denapar, Bali Mega Rupa secara konsisten mengarusutamakan ide-ide cipta yang selalu kontekstual, merayakan eksplorasi intermedium, dan senantiasa membuka peluang kolaborasi lintas bangsa.
Pada penyelenggaraan yang kedelapan ini, Bali Mega Rupa mengusung tema besar “Sukma Rupa: Artistika Atma Kerthi”. Tema tersebut diselaraskan secara harmonis dengan tema utama Festival Seni Bali Jani 2026, “Kembara Sukma Atma Kerthi”.
Kurator FSBJ 2026, Ida Bagus Martinaya menjelaskan pameran lukisan di FSBJ memiliki karakteristik yang berbeda dengan Pesta Kesenian Bali (PKB), baik dari segi jenis lukisan maupun tema-tema yang diangkat. Jika PKB sarat dengan seni tradisi, maka Mega Rupa di FSBJ dirancang secara khusus sebagai puncak akomodasi bagi seni-seni modern kontemporer.
”Mega Rupa ini memang secara khusus dikemas sebagai implementasi seni rupa modern kontemporer, jadi bukan tradisi. Di situ ada lukisan, seni patung, instalasi, hingga video,” ujarnya Selasa (14/7/2026).
Pria yang akrab disapa Gus Martin ini memaparkan seluruh sajian dalam festival tahun ini, termasuk bidang seni rupa, mengacu pada tema besar yang telah ditetapkan, yaitu “Atma Kerti”. Kendati demikian, masing-masing cabang seni memiliki sub-tema atau turunan temanya tersendiri untuk memberikan ruang eksplorasi yang lebih spesifik bagi para seniman.
Untuk menyaring karya-karya yang akan dipamerkan, tim kurator yang terdiri dari tiga orang Prof. Dr. Wayan “Kun” Adnyana, Jeon Dongsu, dan Warih Wisatsana, menerapkan dua sistem kepesertaan yang bersifat umum.
Pertama sistem penunjukan langsung. Tim kurator memilih dan menunjuk langsung pelukis-pelukis yang dinilai telah memiliki jam terbang tinggi, dedikasi yang baik, serta kualitas karya yang mumpuni.
Kedua, sistem open call (pengumuman terbuka). Pendaftaran yang dibuka secara luas bagi masyarakat umum. Melalui sistem open call, para seniman dapat mendaftarkan diri secara mandiri. Seluruh karya yang masuk tetap harus melewati proses kurasi yang ketat oleh tim kurator untuk menentukan kelayakan karya yang akan ditampilkan di ruang pameran.
Bali Mega Rupa 2026 menjadi titik temu bagi 83 seniman dari empat negara, yaitu Indonesia, Korea Selatan, Prancis, dan Ukraina. Kolaborasi internasional ini memperlihatkan bagaimana dialog estetik mampu melintasi batas geografis dan budaya.
Perupa yang terlibat diantaranya Ade Nova, Aimery Joessel, Harits Geronimo, I Dewa Putu Ari Kresna Artha Negara, I Gede Ari Widia Utama Pucangan, I Ketut Teja Astawa, dan I Made Bayu Pramana.
Tajuk “Sukma Rupa: Artistika Atma Kerthi” menaungi khasanah cipta perupa modern kontemporer dalam bentuk artistika—sebuah penegasan atas keautentikan karya yang bermula dari segenap daya intuisi, imajinasi, mimpi, serta cara pandang metafisika para seniman.
Artistika rupa Bali modern kontemporer ini tidak sekadar menampilkan keindahan visual, tetapi juga menggali bahasa rupa yang personal. Secara reflektif, para seniman menginterpretasikan mitologi, epos, serta narasi mendalam tentang roh dan jiwa.
Di dalam ruang pameran di Gedung Kriya Taman Budaya Denpasar dan Nata Citta Art Space (NCAS) ISI Bali publik dapat menyaksikan pertemuan antara praktik artistik mapan dari para maestro dengan kecenderungan-kecenderungan baru yang segar, yang rekah dan tumbuh di kalangan generasi muda.
Langkah ini terbukti efektif dalam memperluas jejaring seni rupa Bali dalam konteks nasional maupun internasional. (*)








