
KLUNGKUNG – Pemkab Klungkung serius menyiapkan konsep Green Island Nusa Penida sebagai arah baru pembangunan kawasan kepulauan yang menitikberatkan pada kelestarian lingkungan dan pariwisata berkelanjutan. Program ini diharapkan menjadi solusi atas dampak pertumbuhan pariwisata yang semakin pesat di wilayah Nusa Penida.
Komitmen tersebut juga mendapat perhatian pemerintah pusat. Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya, melakukan kunjungan kerja selama dua hari di Nusa Penida pada 15–16 Februari 2026 untuk melihat langsung kesiapan daerah dalam mewujudkan pulau wisata berbasis energi bersih dan tata kelola ramah lingkungan.
Plt Kepala Dinas Pariwisata Klungkung, Gusti Agung Gede Putra Mahajaya, Rabu (18/2/2026), menjelaskan program Green Island Nusa Penida merupakan konsep pembangunan berkelanjutan yang bertujuan menjadikan kawasan kepulauan sebagai destinasi wisata ramah lingkungan, berbasis energi bersih, sekaligus menjaga kelestarian alam dan budaya lokal.
Menurutnya, pesatnya perkembangan pariwisata di tiga pulau, yakni Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan, memunculkan sejumlah tantangan seperti meningkatnya produksi sampah, kebutuhan energi listrik, tekanan terhadap ekosistem pesisir, hingga pelanggaran tata ruang. Kondisi tersebut menjadi latar belakang lahirnya konsep Green Island.
“Pemerintah daerah ingin memastikan pariwisata berkembang tanpa merusak lingkungan, karena daya tarik utama Nusa Penida adalah keindahan alamnya,” ujarnya.
Program ini akan diwujudkan melalui pengembangan energi baru terbarukan, penguatan sistem pengelolaan sampah terpadu, edukasi bagi masyarakat dan pelaku usaha, serta peningkatan kesadaran wisatawan terhadap pentingnya menjaga lingkungan.
Namun demikian, pemerintah daerah mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, seperti keterbatasan infrastruktur pengelolaan sampah, belum optimalnya pemanfaatan energi bersih, serta masih rendahnya kesadaran sebagian masyarakat dan pelaku usaha dalam pengelolaan lingkungan.
Mahajaya menegaskan keberhasilan program Green Island Nusa Penida sangat bergantung pada kolaborasi pemerintah pusat dan daerah, masyarakat, pelaku usaha, serta wisatawan.
“Perubahan perilaku menjadi kunci utama keberhasilan program ini,” pungkasnya. (yan)








