
KLUNGKUNG – Desa adat di Kabupaten Klungkung kini menghadapi tantangan yang cukup berat di tengah gempuran pariwisata global yang makin masif serta membawa berbagai pengaruh budaya asing.
Bendesa Madya Kabupaten Klungkung terpilih, Dewa Made Tirta, menyebut derasnya arus wisata telah mengubah orientasi sebagian masyarakat sehingga nilai-nilai adat, agama, dan budaya mulai terpinggirkan.
Hal itu disampaikannya usai dikukuhkan sebagai Bendesa Madya Kabupaten Klungkung pada Paruman Majelis Madya Desa Adat Kabupaten Klungkung, Minggu (7/12/2025) di Aula SMAN 2 Semarapura.
Berangkat dari kondisi itulah mendorong Dewa Tirta menegaskan komitmen untuk memperkuat pondasi desa adat demi menjaga identitas Bali yang tak tergoyahkan.
Ia melihat desa adat di Kabupaten Klungkung kini berada pada persimpangan penting, menghadapi tantangan besar seiring pesatnya pertumbuhan industri pariwisata yang membawa dampak sosial dan budaya.
Fenomena globalisasi dan derasnya arus wisatawan, seperti di kawasan Kepulauan Nusa Penida, berpotensi memicu perubahan orientasi masyarakat dan menggerus nilai-nilai luhur kehidupan adat Bali.
Dewa Made Tirta, mengungkapkan tantangan yang dihadapi desa adat ke depan tidak bisa dianggap ringan. Menurutnya, perkembangan pariwisata yang sangat cepat telah menciptakan kondisi sosial yang semakin heterogen, membuka pintu semakin banyaknya pengaruh budaya asing masuk dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Tantangan desa adat luar biasa. Arus pariwisata yang cukup deras membawa konsekuensi perubahan orientasi masyarakat dan masuknya pengaruh budaya asing,” ujar Dewa Tirta.
Ia mencontohkan, saat ini sebagian masyarakat cenderung bersikap pragmatis, lebih memprioritaskan kebutuhan ekonomi dan kepentingan praktis dibandingkan kehidupan adat, agama, dan budaya. Nilai-nilai yang selama ini menjadi roh kehidupan orang Bali, seperti keharmonisan, kebersamaan, dan spiritualitas tidak lagi ditempatkan sebagai prioritas utama oleh sebagian kalangan.
“Orientasi masyarakat banyak yang berubah. Ada yang menempatkan adat, agama, dan budaya sebagai nomor sekian. Ini menjadi kekhawatiran kita bersama,” tegasnya.
Ia juga mencontohkan fenomena saat ini dimana Sebagian orang saat bersembahyang ke Pura lebih menonjolkan panggung mode (bergaya) ketimbang ruang spiritual.
Melihat kondisi tersebut, Dewa Tirta menekankan perlunya upaya serius untuk memperkuat pondasi adat, agama, dan budaya sebagai identitas Bali yang seharusnya tidak tergoyahkan oleh perkembangan zaman.
Ia menegaskan desa adat harus kembali menjadi benteng utama pelestarian nilai-nilai tradisi, sekaligus menjadi ruang pendidikan karakter bagi generasi muda.
Menurutnya, desa adat harus mampu menata diri di tengah perubahan sosial, termasuk melakukan adaptasi yang tepat agar tetap eksis tanpa kehilangan jati diri.
Penguatan kelembagaan adat, penyelarasan awig-awig serta pararem, pengembangan program pembinaan generasi muda menjadi agenda penting yang akan didorong.
“Saya berjanji akan terus mengupayakan penataan kembali keberadaan desa adat di Kabupaten Klungkung dalam rangka mewujudkan ketentraman dan kedamaian desa adat,” kata Dewa Tirta.
Ia berharap seluruh komponen masyarakat adat, mulai dari prajuru hingga krama desa, dapat terlibat aktif dalam menjaga identitas Bali agar tidak luntur oleh arus modernisasi. Kolaborasi dengan pemerintah juga disebut menjadi kunci keberhasilan dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan pariwisata dan kelestarian budaya Bali.
“Dengan dukungan para bendesa, tokoh adat,tokoh agama, saya berharap Desa Adat di Kabupaten Klungkung semakin eksis menjalankan peran melestarikan adat, agama dan budaya yang adiluhung ini,” pungkas Dewa Tirta. (yan)








