
DENPASAR – Menteri Koordinator (Menko) Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono melakukan kunjungan ke Bali Maritime Tourism Hub (BMTH), Selasa (21/7/2026). Kawasan ini ditarget beroperasi penuh pada 2028 mendatang, dan diproyeksikan menjadi salah satu pusat marina terbesar dan terbaik di Asia Tenggara.
Bagi Menko yang akrab disapa AHY ini, BMTH merupakan sebuah proyek strategis bagi pengembangan pariwisata di Pulau Dewata. Karena di dalam kawasan BMTH dikembangkan fasilitas dan ekosistem untuk mendukung wisata bahari. “Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17 ribu pulau. Dan tentu, yang paling strategis adalah Bali. Semua orang mengenal Bali. Wisatawan mancanegara pun senantiasa menempatkan Bali sebagai destinasi yang harus dikunjungi, paling tidak sekali seumur hidupnya. Karena itu, kita berharap Bali dapat terus menjadi destinasi pariwisata berkelas dunia,” sebutnya.
Pengembangan Pelabuhan Benoa, menurut dia, merupakan salah satu upaya yang bisa dilakukan dalam rangka mengembangkan potensi Bali. Serangkaian dengan itu, akan dilakukan pula relokasi dan penataan kapal-kapal perikanan dari titik eksisting.
Atas relokasi tersebut, maka kawasan BMTH dapat difokuskan untuk pengembangan marina. Yang mana potensi daya tampungnya, diketahui mencapai 188 kapal yacht dengan berbagai ukuran, termasuk super yacht dan mega yacht. Selain itu, juga akan dikembangkan fasilitas tambat bagi kapal-kapal pesiar (cruise ship) berkapasitas hingga lima kapal besar.
“Hal ini diharapkan dapat mendatangkan semakin banyak wisatawan dari berbagai negara. Kita tahu, jumlah wisatawan domestik terus meningkat, tetapi wisatawan mancanegara khususnya mereka yang termasuk kategori high spending tourism atau memiliki tingkat belanja tinggi, juga menjadi target yang ingin kita tarik,” ucapnya.
Wisatawan datang ke Bali, sambung AHY, selain menikmati keindahan alam dan budayanya, juga sekaligus diharapkan dapat berbelanja. Karenanya, penyediaan fasilitas tambat berstandar internasional tidaklah cukup tanpa didukung ketersediaan air, listrik, hingga dermaga yang kokoh dengan teknologi terkini.
“Ke depan juga akan dikembangkan berbagai fasilitas penunjang seperti area hiburan, pusat perbelanjaan, taman terbuka, ruang terbuka hijau, serta kawasan yang aman dan nyaman bagi siapapun yang berkunjung,” imbuhnya.
Pemerintah, dipastikan akan terus mendorong dan mendukung pengembangan tersebut. Termasuk di antaranya melalui penyempurnaan regulasi yang masih perlu dibenahi. “Selain itu, pemerintah juga akan terus menciptakan iklim investasi yang semakin kondusif dan menjanjikan, karena pengembangan tahap berikutnya membutuhkan investasi yang tidak sedikit,” sambungnya.
Kawasan BMTH sendiri, lanjut Menko, rencana sudah dapat dioperasikan secara penuh pada 2028 mendatang. Namun prosesnya dilakukan secara bertahap, dan tentu dengan penataan secara profesional memenuhi prinsip-prinsip keberlanjutan. “Bali harus terus tumbuh dan sektor pariwisatanya harus semakin maju. Namun, kemajuan itu tidak boleh meninggalkan, apalagi mengorbankan aspek kelestarian lingkungan hidup. Kita ingin menjaga alam Bali, sekaligus menjaga budaya Bali,” pungkasnya.
Berkenaan dengan komitmen tersebut, pengembangan kawasan BMTH ditegaskan harus memenuni standar sustainability. Aspirasi masyarakat harus didengar, dan perhatikan tata ruang wilayah, baik RTRW maupun RDTR. Dengan demikian, maka BMTH bukan hanya menjadi Hub, melainkan daya tarik baru.
“Mengapa tidak jika visinya adalah menjadikan kawasan ini sebagai salah satu marina terbesar dan terbaik di Asia Tenggara? Indonesia sebagai negara maritim dan negara kepulauan terbesar, sudah sepatutnya menjadi Hub sekaligus pusat wisata bahari yang mendunia. Saya rasa itu semangatnya,” tegasnya.*








