
KUTA – Tiga desa adat di wilayah Kecamatan Kuta memastikan tetap melaksanakan pembuatan ogoh-ogoh dalam kaitan Pangrupukan nanti. Hal tersebut terungkap dalam gelaran rapat koordinasi berkenaan Surat Edaran Bersama Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dan Majelis Desa Adat (MDA) Kabupaten Badung tentang Tuntunan Pelaksanaan Rangkaian Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1944, Kamis (20/1/2022).
Camat Kuta Ngurah Bayudewa menegaskan, pertemuan tersebut tidak bermaksud untuk mengubah ketentuan yang telah disuratkan oleh PHDI dan MDA. Apapun yang ada di surat edaran dimaksud, maka itulah yang wajib untuk dilaksanakan bersama.
“Mari kita belajar taati aturan dan regulasi. Apapun yang telah disepakati, itulah yang harus dilaksanakan,” ajaknya.
Dirinya berharap, pelaksanaan rangkaian Hari Raya Nyepi di wilayah Kecamatan Kuta dapat berjalan seimbang. Tentunya termasuk memperhatikan dan menjalankan ketentuan kaitan dengan protokol kesehatan cegah penyebaran Covid-19.
“Dapat kami simpulkan sementara, pelaksanaan rangkaian Hari Raya Nyepi tetap dilaksanakan dan berjalan sesuai edaran PHDI dan MDA. Dengan catatan tetap mengimplementasikan prokes dengan disiplin dan ketat,” tegasnya.
Berkenaan dengan pelaksanaan tradisi, agama, dan budaya rangkaian Nyepi, katanya berada di pundak desa adat. Namun pihaknya di kecamatan tentu siap untuk turut mendukung.
“Karena ini bolanya ada di desa adat, maka catatan kami adalah agar bagaimana nanti mengawasi agar tidak sampai terjadi pelanggaran protokol kesehatan. Harapan kita juga, yang tidak kalah pentingnya adalah jangan menabrak regulasi yang ada,” tegasnya.
Untuk diketahui, dalam rakor tersebut, desa adat yang memastikan adanya pembuatan ogoh-ogoh adalah Seminyak, Legian, dan Kuta. Bahkan oleh beberapa sekaa teruna, proses pembuatan ogoh-ogoh sudah mulai dilaksanakan.
“Seminyak Kaja, Seminyak Kelod, Seminyak Kangin, dan Tatag Seminyak sudah mulai membuat sejak keluarnya sudah surat edaran. Begitu keluar, besoknya sudah mulai. Mungkin karena ini sudah menjadi hal yang sangat diidam-idamkan. Bahkan di lapangan, para pemuda ini sudah lebih dahulu tahu soal adanya surat edaran itu ketimbang saya,” beber Bendesa Adat Seminyak Wayan Windu Segara.
Namun dirinya memastikan sudah menegaskan kepada para pemuda agar pelaksanaan tersebut tetap mengacu aturan berlaku. Dan para pemuda pun dipastikan sudah mengetahui dan memahami hal tersebut.
“Kaitan dengan ketentuan hasil negatif tes antigen, mungkin dananya nanti dari banjar adat atau mungkin kita akan support dari desa. Seperti sekarang saja, untuk pembuatan ogoh-ogoh kami juga support dari desa, hanya saja memang tidak maksimal seperti dahulu,” ucapnya.
Meski begitu, dirinya mengaku sependapat, jika nantinya syarat tes antigen bisa difasilitasi pemerintah. Itu juga sebagai bentuk dukungan, terhadap kreativitas para pemuda yang memutuskan untuk tetap membuat ogoh-ogoh.
“Kami harap pemerintah memfasilitasi ini, sehingga bisa gratis,” tambahnya ditemui di usai acara rapat.
Sementara itu, Wayan Sudra yang mewakili Bendesa Adat Legian mengungkapkan, pihaknya di Desa Adat Legian juga telah menyikapi surat edaran melalui gelaran rapat. Dia memastikan, di wilayah Desa Adat Legian rencananya tetap ada ogoh-ogoh, yang tentunya menyesuaikan aturan berlaku. Jumlahnya diperkirakan ada tiga, sesuai dengan keberadaan banjar di wewidangan Desa Adat Legian.
“Di Legian ada tiga banjar. Yaitu Banjar Legian Kaja, Tengah, dan Kelod. Untuk keamanan, semuanya akan turun, seperti Linmas, Panrepti, ataupun Pecalang,” singkat pria yang merupakan Baga Adat Desa Adat Legian itu.
Terpisah, Bendesa Adat Kuta Wayan Wasista juga mengungkapkan, para pemuda di Desa Adat Kuta sudah mulai ada yang membuat ogoh-ogoh. Jika nantinya semua sekaa teruna membuat, maka tentu jumlahnya akan sebanyak 13 ogoh-ogoh.
“Di Kuta saya pastikan tidak boleh lebih dari 13,” tegasnya.
Soal tes antigen, Wasista juga berharap agar pemerintah bisa membantu. Karena jika itu dilakukan secara mandiri, tentu akan membutuhkan biaya lagi. “Kami sudah senantiasa pakai masker, dan sudah zero. Dan kalau dibandingkan di tempat lain, apakah di sana sudah melakukan swab? Saya tidak sebutkan itu dimana, tapi yang jelas itu acaranya besar dan melibatkan banyak orang. Lalu apa yang terjadi di sana? Kan masih aman-aman saja,” ucapnya.
Meski ogoh-ogoh tetap dibuat, Wasista mengabarkan bahwa hal tersebut tidak akan dibalut gelaran lomba. Atau dengan kata lain, Festival Seni Budaya Desa Adat Kuta yang merupakan agenda tahunan, tidak akan dilaksanakan pada tahun ini.
“Bisa dikatakan, tahun ini 100 persen Festival Seni Budaya tidak kami laksanakan. Hanya pembuatan ogoh-ogoh, yang pelaksanaannya benar-benar kembali kepada tradisi terdahulu,” ucapnya.
Dia menambahkan, untuk di Desa Adat Kuta sendiri, rangkaian perayaan Nyepi nantinya juga akan dibahas kembali dalam paruman desa adat yang rencana terlaksana pada 2 Pebruari 2022 nanti. (adi/jon)








