
DENPASAR – Di tengah derasnya arus perubahan teknologi, ruang kelas tidak lagi sekadar menjadi tempat menyampaikan pengetahuan. Dunia pendidikan dituntut bergerak lebih adaptif, menghadirkan pembelajaran yang kreatif, aman, dan mampu menjawab tantangan zaman. Semangat itulah yang menjadi dasar SMK PGRI 3 Denpasar menggelar Workshop Penyelarasan Kurikulum selama tiga hari, mulai Senin (6/7/2026).
Kegiatan yang berlangsung di aula sekolah tersebut menjadi ruang bagi para pendidik untuk memperkuat kemampuan dalam merancang pembelajaran yang selaras dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja abad ke-21. Workshop diikuti jajaran pimpinan sekolah, ketua program keahlian, serta seluruh guru SMK PGRI 3 Denpasar.
Salah satu sesi yang menjadi perhatian adalah materi bertajuk “Penguatan Literasi Digital Guru untuk Membangun Ekosistem Pembelajaran yang Aman, Kreatif, dan Inovatif” yang disampaikan oleh Dr. Ida Bagus Made Wisnu Parta, S.S., M.Hum., dosen Universitas Dwijendra sekaligus Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia.
Dalam paparannya, Dr. Wisnu mengingatkan bahwa teknologi bukan hanya tentang kemampuan mengoperasikan perangkat digital, tetapi juga menyangkut cara berpikir kritis, etika dalam bermedia, keamanan informasi, serta kreativitas dalam memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari proses pembelajaran.
“Guru saat ini tidak hanya menjadi penyampai informasi, tetapi juga fasilitator, kurator, dan inovator pembelajaran. Literasi digital menjadi fondasi penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, kreatif, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik,” ungkapnya.
Menurutnya, perkembangan teknologi membawa peluang besar sekaligus tantangan bagi dunia pendidikan. Karena itu, sekolah perlu membangun budaya digital yang sehat dengan menanamkan kesadaran mengenai perlindungan data pribadi, pencegahan informasi palsu, hingga pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab.
Guru, kata dia, memiliki peran penting sebagai teladan bagi peserta didik dalam menggunakan teknologi secara bijak. Tidak hanya menjadi pengguna, guru juga diharapkan mampu mengarahkan siswa agar menjadi generasi digital yang cerdas, beretika, dan memiliki karakter kuat.
Dalam workshop tersebut juga dibahas pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sebagai salah satu inovasi pendukung pembelajaran. Teknologi AI dapat membantu guru dalam menyusun perangkat ajar, mengembangkan media pembelajaran, hingga melakukan evaluasi pembelajaran secara lebih efektif.
“Teknologi dan AI harus dilihat sebagai mitra strategis dalam pembelajaran. Namun penggunaannya tetap harus mengedepankan etika, kreativitas, dan integritas akademik,” tegas Dr. Wisnu.
Suasana workshop berlangsung dinamis. Para guru aktif berdiskusi mengenai berbagai tantangan dalam penerapan kurikulum, pengembangan metode pembelajaran berbasis teknologi, serta peluang dan risiko penggunaan AI di lingkungan sekolah.
Kepala SMK PGRI 3 Denpasar, Ns. Ni Putu Ayu Agustin KarismaDewi, S.Kep., S.Pd., mengatakan kegiatan tersebut menjadi langkah penting untuk meningkatkan kompetensi para pendidik.
Menurutnya, penyelarasan kurikulum bukan hanya tentang menyesuaikan materi pembelajaran, tetapi juga mempersiapkan guru agar mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih inovatif dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
“Melalui workshop ini, kami berharap guru semakin siap menghadapi perubahan zaman dan mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif, adaptif, serta mendukung peningkatan kompetensi siswa,” ujarnya.
Workshop Penyelarasan Kurikulum ini menjadi bagian dari komitmen SMK PGRI 3 Denpasar dalam membangun pendidikan yang responsif terhadap perkembangan teknologi. Dengan guru yang semakin melek digital, sekolah optimistis mampu mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara kompetensi, tetapi juga memiliki karakter dan kesiapan menghadapi dunia kerja di era digital. (*)








