
BANGLI – Setidaknya 25 ton ikan mati di Keramba Jala Apung (KJA) pada Kamis (23/7/2026) akibat semburan belerang di Danau Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Jumlah tersebut diperkirakan terus bertambah.
Kabid Perikanan Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) I Wayan Agus Wirawan mengonfirmasi kematian ikan massal itu dampak semburan belerang di Danau Batur sejak, Senin (20/7/2026).
“Data tersebut (jumlah ikan mati) belum final. Petani belum berani ke KJA karena khawatir bisa membuat ikan stres dan mati saat masih terjadi semburan belerang,” kata I Wayan Agus Wirawan, mewakili Kadis PKP, Wayan Sarma, Kamis (23/7/2026).
Pihaknya sudah mengirimkan surat edaran kepada pembudidaya ikan di seputaran Danau Batur agar untuk sementara waktu tidak menebar bibit ikan guna menghindari kerugian yang lebih besar.
Sebagai catatan, semburan belerang di Danau Batur merupakan siklus tahunan yang kerap menghantui para pembudidaya ikan setempat.
Bahkan, di tahun 2025, semburan belerang di Danau Batur sangat memukul perekonomian masyarakat. Salah satunya di perairan wilayah Desa Trunyan, belerang mematikan 70 ton ikan air tawar dengan kerugian mencapai Rp 2,1 miliar dengan estimasi harga ikan 30 ribu per kilogram.
Kondisi tersebut juga mengancam kesehatan masyarakat. Sebab, bangkai ikan menimbulkan bau busuk yang menyebar ke pemukiman warga.
Penanganan bangkai ikan dilakukan Pemerintah Kabupaten Bangli, TNI, Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, Balai Wilayah Sungai Bali Penida (BWS), relawan, dan masyarakat setempat. (*)








