
KARANGASEM – Di balik khidmatnya pelaksanaan puncak Karya Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK) 2026 di Pura Agung Besakih, tersimpan cerita tentang kerja senyap yang memastikan ribuan pemedek dapat bersembahyang dengan nyaman.
Bukan hanya soal upacara, tetapi juga tentang bagaimana kawasan suci ini dikelola dengan penuh perhatian hingga ke hal-hal paling detail.
Sejak pagi, arus pemedek terus mengalir menuju pura terbesar di Bali tersebut. Kendaraan tertata rapi, jalur pejalan kaki terjaga, dan suasana tetap kondusif meski jumlah umat meningkat tajam.
Bagi I Gusti Lanang Muliarta, keberhasilan hari pertama bukan sekadar soal kelancaran, melainkan bagaimana pengalaman spiritual pemedek tidak terganggu oleh persoalan teknis.
“Target utama kami adalah memastikan lalu lintas lancar, parkir tertib, dan pergerakan pemedek tetap nyaman serta aman,” ujarnya di sela pemantauan di kawasan parkir Kedundung, Kamis (2/4/2026) lalu.
Namun, di luar pengaturan arus dan parkir, ada perhatian besar pada aspek yang sering dianggap sepele: kebersihan. Di kawasan suci seperti Besakih, kebersihan bukan hanya soal estetika, tetapi bagian dari kesucian itu sendiri.
Tim pengelola bekerja di berbagai lini dari area parahyangan hingga pengolahan sampah di TPS 3R untuk memastikan tidak ada sampah yang mengganggu kekhusyukan umat.
Lonjakan pemedek memang membawa konsekuensi meningkatnya volume sampah. Tapi bagi tim pengelola, itu sudah menjadi bagian dari skenario yang diantisipasi sejak awal.
Sistem pengangkutan hingga pengolahan telah disiapkan berlapis, memastikan kawasan tetap bersih sepanjang rangkaian karya.
Menariknya, perhatian terhadap kenyamanan pemedek juga datang dari hal-hal yang sangat detail. Wayan Koster, disebut memberikan arahan langsung hingga pada fasilitas pendukung seperti toilet. Bukan sekadar tersedia, tetapi juga harus layak dan lengkap.
“Beliau sangat detail, bahkan fasilitas toilet seperti kaca atau cermin juga menjadi perhatian. Itu hal kecil, tapi penting bagi kenyamanan pemedek,” ungkap Muliarta.
Sentuhan perhatian pada detail inilah yang menjadi pembeda. Di tengah ribuan umat yang datang, pengalaman bersembahyang tidak hanya ditentukan oleh prosesi, tetapi juga oleh kenyamanan lingkungan sekitar.
Selain pengelolaan teknis, dukungan juga datang dalam bentuk bantuan dana sebesar Rp3,2 miliar yang disalurkan melalui Pemerintah Provinsi Bali untuk mendukung pelaksanaan karya.
Dukungan ini menjadi bagian dari komitmen menjaga kelangsungan tradisi sekaligus meningkatkan kualitas penyelenggaraan.
Puncak Karya IBTK tahun ini bertepatan dengan Purnama Sasih Kadasa dan akan berlangsung selama 21 hari hingga penyineban pada 23 April 2026.
Selama periode tersebut, kawasan Besakih dipastikan akan terus dipadati pemedek, dengan pengelola tetap menekankan kebersihan dan penerapan larangan plastik sekali pakai.
Di balik kemegahan upacara dan padatnya kunjungan, kisah tentang Besakih tahun ini menunjukkan satu hal: kenyamanan spiritual tidak hadir begitu saja.
Ia lahir dari kerja terencana, koordinasi yang rapi, dan perhatian pada detail bahkan hingga sebuah cermin di dalam toilet. (jay/jon)








