
GIANYAR – Pulau Bali yang selama ini dikenal dunia sebagai Pulau Surga dengan keindahan alam dan kekayaan budayanya, kini tengah diuji. Hujan deras yang mengguyur tanpa henti selama dua hari Selasa (9/9/2025) hingga Rabu (10/9/2025), menyebabkan banjir di berbagai wilayah.
Dampaknya tidak hanya merendam jalan dan pemukiman, tetapi juga menghantam keras sektor penting yang menjadi penopang hidup masyarakat Bali.
Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Gianyar, drh. I Nyoman Arya Darma, mengungkapkan banjir singkat ini meninggalkan luka yang dalam.
“Air yang meluap seolah menunjukkan Bali sangat rentan. Bukan hanya rumah warga yang terdampak, tetapi sektor peternakan, pertanian, pariwisata, hingga ekonomi rakyat terpukul hebat,” ujarnya, Kamis (11/9/2025).
Menurut Arya, peternakan menjadi salah satu sektor yang paling terpuruk. Banyak kandang tergenang, hewan ternak stres, terserang penyakit, bahkan mati. Kondisi ini diperparah dengan ancaman penyakit menular seperti Leptospirosis dan Penyakit Mulut & Kuku (PMK) yang mudah menyebar di lingkungan lembap dan kotor.
Sementara itu, sektor pertanian juga tidak luput dari kerugian besar. Sawah dan ladang yang siap panen terendam banjir, membuat padi, sayur, dan buah-buahan membusuk.
“Biaya produksi yang sudah dikeluarkan petani lenyap begitu saja. Mereka harus menunggu lama agar lahan bisa kembali ditanami,” tambahnya.
Dampak lain terlihat pada pariwisata, sektor andalan Bali. Wisatawan merasa tidak nyaman, sebagian mempercepat kepulangan, sementara akses ke sejumlah destinasi terputus. Beberapa hotel dan vila ikut kebanjiran, kegiatan wisata alam seperti trekking, rafting, hingga wisata pantai terpaksa ditutup sementara.
Di sisi lain, ekonomi lokal ikut terguncang. Pasar tradisional terendam, barang dagangan rusak, warung dan pelaku UMKM kehilangan pendapatan. Distribusi barang terganggu, transportasi melambat, dan harga kebutuhan pokok naik.
“Banjir sehari bisa membuat ekonomi rakyat terpuruk berbulan-bulan,” tegas Arya.
Tak kalah serius, bencana ini juga menimbulkan dampak sosial dan psikologis. Warga mengungsi, anak-anak belajar di tempat penampungan, lansia dan kelompok rentan mengalami trauma.
“Ini bukan sekadar bencana alam, tetapi juga bencana kemanusiaan,” kata Arya.
Ia menekankan, banjir ini harus menjadi refleksi bersama. Perubahan iklim, tata ruang yang tidak ramah lingkungan, serta minimnya mitigasi bencana memperparah kerentanan Bali.
“Ini panggilan darurat. Pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, hingga dunia internasional harus bersatu membenahi Bali. Kalau dibiarkan, Bali bisa tenggelam bukan hanya oleh air, tapi juga oleh kelalaian kita sendiri,” pungkas Arya. (yan)








