
GIANYAR – Ritual Pemendak Agung yang ditandai pacepukan petapakan barong dan rangda di Catus Pata Kota Gianyar berlangsung dibawah guyuran hujan, Selasa (28/7/2026). Ritual ini serangkaian piodalan di Pura Dalem Serongga, Gianyar.
Meski hujan deras, tidak mengurangi antusias ribuan warga dari 7 desa adat yang mengikuti prosesi tersebut.
Tujuh desa adat itu yakni, tiga desa adat dari Kabupaten Klungkung meliputi, Desa Adat Sarimerta, Desa Adat Tusan dan Desa Adat Tojan. Empat desa adat lainnya berasal dari Kabupaten Gianyar seperti, Desa Adat Serongga, Desa Adat Siangan, Lebih, dan Tedung. Yang menarik, warga masing-masing desa adat berjalan kaki dari desa nya menuju Catus Pata Kota Gianyar.
Setibanya di Catus Pata, delapan patapakan barong secara bergiliran mengikuti prosesi pacepukan. Dalam suasana sakral tersebut, sejumlah pangiring mengalami kerauhan atau trance sebagai bagian dari rangkaian ritual.
Usai prosesi pacepukan, para pemangku patapakan bersama Pangelingsir Puri Agung Gianyar menghaturkan bakti pamendak agung. Prosesi penghormatan tersebut turut dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Mayun, yang juga menjabat sebagai Pangelingsir Puri Agung Gianyar.
Selanjutnya, seluruh patapakan barong melanjutkan perjalanan menuju Pura Dalem Serongga untuk mengikuti rangkaian pujawali yang bertepatan dengan rahina Purnama.
Jero Bandesa Adat Serongga, Pande Made Sudarsana, mengatakan pelaksanaan karya kali ini diikuti delapan patapakan barong yang tedun lunga menuju Pura Dalem Serongga.
“Dari Gianyar terdapat patapakan barong sungsungan jagat Serongga, Siangan, Lebih, dan Tedung. Sementara dari Klungkung berasal dari Desa Adat Tusan, Sari Mertha, dan Tojan,” jelasnya.
Sementara itu, Pemangku Pura Dalem Serongga, Jro Mangku I Made Merta Nadi, menjelaskan Tradisi nuwur atau menjemput patapakan Ida Batara dari berbagai desa lintas kabupaten merupakan warisan dresta yang telah dijalankan secara turun-temurun.
Ia menyebut, makna dari tradisi nuwur ketuwur dan pacepukan bukan hanya sebagai rangkaian upacara keagamaan, tetapi juga menjadi sarana mempererat gendu rasa serta paiketan pasemetonan antar masyarakat adat. “Tapakan barong maupun rangda menjadi simbol keyakinan yang mempersatukan masyarakat lintas desa adat. Tradisi ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga hubungan spiritual dan kebersamaan yang telah diwariskan leluhur,” ujarnya.
Keterlibatan Puri Agung Gianyar dalam prosesi penghormatan kepada patapakan barong semakin memperkuat nilai kebersamaan dalam menjaga warisan spiritual yang telah berlangsung hingga kini. (*)








