
GIANYAR – Ada sisi Bali yang jarang dilihat oleh kebanyakan wisatawan, bukan karena tersembunyi, melainkan karena belum cukup berkembang untuk menarik kerumunan.
Pantai Keramas, di pesisir tenggara Gianyar, adalah salah satu dari tempat-tempat tersebut: pesisir berpasir hitam yang sebagian besar hanya dikenal oleh para peselancar, dan masih sangat bebas dari kepadatan yang menjadi ciri khas kawasan wisata Bali yang lebih populer.
Lebih jauh di sepanjang pesisir, wilayah tetangganya, Saba, serta bentangan yang lebih luas menuju Klungkung, secara diam-diam mulai muncul sebagai alternatif Bali Selatan yang kian padat — sebuah bagian pulau yang masih lebih banyak dibentuk oleh rutinitas kehidupan sehari-hari ketimbang infrastruktur pariwisata.
Kualitas yang masih murni inilah yang membentuk gagasan di balik Keanu Residences, sebuah koleksi baru berisi 10 hunian tepi pantai yang diperkenalkan secara ekslusif beberapa waktu lalu di kantor Bali Nexus, Ubud, Bali.
Berbeda dari kebanyakan bangunan yang didirikan di sepanjang garis pantai Bali dalam beberapa tahun terakhir, Keanu dirancang sebagai komunitas hunian privat berpagar (gated community) — didesain khusus bagi para pemilik yang memang berniat untuk benar-benar tinggal di rumah mereka, bukan sekadar produk sewaan jangka pendek yang dikemas seolah-olah sebagai hunian.

Desain ini dipimpin oleh Charlie Hearn, pendiri dan arsitek utama Inspiral Studios, sebuah biro arsitektur pemenang penghargaan yang dikenal karena merancang proyek-proyek hunian, keramahtamahan (hospitality), dan destinasi berbasis konteks di seluruh Indonesia serta internasional. Karya studio ini telah meraih pengakuan internasional, termasuk Prix Versailles Award dan International Design Awards.
Arahan yang diberikan kepada Charlie bukan tentang memaksimalkan lahan, melainkan tentang merancang sesuatu yang dapat bertahan lintas generasi dibanding sekadar mengikuti siklus tren sesaat.
“Ini adalah tentang meningkatkan kualitas hidup manusia, tentang keberlanjutan — dan proyek ini mengikuti banyak prinsip yang menyatukan orang-orang,” kata Hearn saat peluncuran Keanu Residences beberapa waktu lalu di Bali Nexus.
“Saya pikir apa yang berhasil kami ciptakan bersama seluruh tim adalah sesuatu yang benar-benar dapat berkesan bagi orang-orang yang memiliki gairah hidup yang tinggi.”

Harmoni dan Kehidupan yang Membumi
Niat tersebut mengalir ke dalam desainnya sendiri, yang memegang teguh Tri Hita Karana, konsep tradisional Bali tentang keharmonisan antara manusia, alam, dan ranah spiritual.
Dalam praktiknya, arsitektur Bali telah lama menggunakan prinsip ini untuk memandu segala hal, mulai dari orientasi bangunan hingga penataan ruang bersama dan ruang pribadi — memperlakukan rumah bukan sebagai struktur yang terisolasi, melainkan sebagai satu bagian dari hubungan yang lebih luas antara penghuninya, tanah tempatnya berdiri, dan komunitas di sekitarnya.
“Mungkin bentuknya bukan seperti apa yang biasanya Anda sebut sebagai gaya Bali, tetapi sebagian besar penerapannya ada pada materialitasnya,” Hearn menjelaskan. “Kami menggunakan serangkaian material lokal secara utuh, dan ini adalah tentang hubungan kita dengan dunia luar yang alami di sekitar kita.”
Bagi para penghuni, hal itu memberikan pengalaman yang tidak seperti memiliki properti liburan biasa, melainkan lebih seperti bergabung dengan sebuah tempat yang sudah memiliki ritmenya sendiri.
Pagi hari mungkin dimulai dengan suara ombak alih-alih bising lalu lintas; pantainya sendiri digambarkan berada tepat di depan pintu rumah, yang masih berbagi ruang dengan komunitas selancar lokal yang telah menggunakannya selama bertahun-tahun — sebuah lokasi tepi pantai yang makin langka di sepanjang garis pantai Bali seiring habisnya lahan yang tersedia di tempat lain.
Alih-alih lanskap bergaya resor yang tertata kaku, pembangunan ini berdiri di dalam lanskap yang terus berfungsi sebagaimana mestinya — dengan hunian yang dirancang untuk menjadi bagian dari keberlanjutan tersebut, alih-alih merusaknya.
Ini adalah penawaran yang lebih tenang dan membumi dibandingkan dengan sebagian besar real estat baru di Bali — tidak berfokus pada latar belakang Instagram yang telah dikurasi, melainkan pada rasa keterikatan yang sejati dengan tempat tersebut (sense of place).
Apakah konsep ini akan berkesan atau tidak, semua bergantung pada pembeli: ini bukanlah proyek pembangunan yang ditujukan untuk perputaran sewa jangka pendek, melainkan sebuah hunian yang dibangun di sekitar ide untuk tinggal cukup lama hingga Anda dapat merasakan perbedaannya. (*)








