
GIANYAR – Koreografer, penari, dan pemusik asal Aceh, DekJall M Safrizal (29), menampilkan karya bertajuk Last War di Panggung Tumbuh, Masa Masa, Desa Ketewel, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Rabu (5/11/2025) malam.
Pertunjukan berdurasi sekitar 30 menit ini menjadi bagian dari program B-PART (Bali Performing Arts Meeting), yang digagas sebagai ruang eksperimentasi dan pengembangan seniman lintas wilayah. Dalam Last War, DekJall menampilkan karya work in progress yang berangkat dari pengalaman masa kecilnya menghadapi konflik dan perang di Aceh. Dari kenangan pahit itu, ia merangkainya dengan perjalanan spiritual dalam dunia tarekat.
Karya ini merupakan refleksi personal atas ingatan dan luka masa lalu, sekaligus upaya meninjau ulang apa yang masih melekat dan apa yang telah terlepas dari dirinya serta tanah kelahirannya. Melalui gerak tubuhnya, DekJall mengajak penonton menyelami memori tentang perang, trauma, dan perdamaian, sembari menggugah pertanyaan mendalam: “Mengapa harus ada konflik dan perang?”
Program Last War yang difasilitasi oleh B-PART ini juga mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Ajang ini menjadi ruang pertemuan dan pertukaran gagasan antar seniman muda dari berbagai daerah untuk menjelajahi praktik tubuh, memori, dan spiritualitas.
Founder sekaligus Direktur B-PART 2023-2025, Wayan Sumahardika, mengatakan, tahun 2025 menjadi penanda penting bagi perjalanan B-PART. Setelah tiga tahun menelusuri tema “Raga, Ruang, Ragam (Living Bodies, Shared Spaces, Plural Lifeways)”, B-PART kini memperluas perannya-bukan hanya sebagai ruang eksperimentasi seni, tetapi juga sebagai simpul pengembangan talenta dan jejaring profesional. (dar,yan)








