
DENPASAR – Pemutaran film di panggung yang berlokasi di Taman Kota, Denpasar, merupakan cetusan unik ala Bali tempo dulu. Sebuah film dokumenter disajikan guna mengajak pengunjung untuk bernostalgia dengan perfilman khas masa lampau.
Serangkaian D’Youth Fest 3.0, 20-21 September 2023, salah satu agenda perfilman tempo doeloe ditampilkan, dengan tema Makin Dekat Film Festival, Arsip Bali 1928. Menyajikan karya- karya film dokumenter Bali era tahun 1930-an, merupakan film bisu yang dibuat oleh Colin McPhee.
Film ini bercerita mengenai lingkungan alam dan masyarakat di Bali tahun 1930-an dari berbagai aspek budaya, tradisi, hingga kehidupan sehari-hari.
Arsip Bali 1928 merupakan kolaborasi internasional yang memadupadankan berbagai pusat arsip di dunia untuk memulangkan arsip-arsip, seperti film, foto, dan dokumen bersejarah yang berkaitan dengan Bali pada masa 1928-an.
Koordinator Proyek Arsip Bali 1928, Marlowe Bandem merintis pendirian Arsip Bali 1928 memiliki tujuan dalam repatriasi, restorasi, dan penyebaran dokumen bersejarah Bali pada masa 1930-an yang tersimpan di luar negeri.
Cetusan Arsip Bali 1928 menjadi catatan yang tak ternilai bagi perjalanan budaya dan kehidupan masyarakat Bali. Banyak kalangan masyarakat Bali yang ingin mengingat kembali suasana dan kondisi masyarakat atau kultur budaya Bali tempo dahulu.
Hingga saat ini, Arsip Bali 1928 telah mengembalikan sebanyak 111 rekaman berupa film maupun audio terkait seni budaya Bali yang tersimpan di luar negeri.
“Karya-karya lain yang juga dipulangkan berupa rekaman gamelan dan tembang sebanyak 111, ragam cuplikan Bali 1930 dengan durasi selama 15 jam, dan 75 foto cetak yang telah direproduksi,” ujar Marlowe Bandem.
Selain dokumenter Bali era 1928-an, Makin Dekat Film Festival turut menyuguhkan konsep film yang diadaptasi dari kehidupan masyarakat Bali yang digagas oleh Searah Creative Hub. Sebuah kelompok yang terbentuk dari keresahan akan minimnya kesadaran industri kreatif di Bali khususnya dalam bidang perfilman.
Menurut penuturan Ketua Komunitas Searah Creative Hub, Dodek Sukahet, Searah Creative Hub dapat menjadi wadah bagi para penggiat film di Bali untuk mengembangkan kreativitas dan daya saing dalam kancah perfilman.
Dodek Sukahet selaku Ketua Komunitas Searah Creative Hub menuturkan tujuan pembentukan komunitas tersebut, “Searah Creative Hub dibentuk untuk menumbuhkan ekosistem film di Bali agar keberadaannya dapat lebih diperhitungkan,” ujar Dodek.
Sebagai pemantik, pada perhelatan Makin Dekat Film Festival ini, Searah Creative Hub membawakan dua film unggulannya dengan tajuk Mejaguran yang telah melanglang buana dalam ajang Festival Film Bulanan.
Film Mejaguran menjadi garapan yang bernuansa laga, “Film Mejaguran ini timbul sebagai pemantik karena kami terfokus pada action scene dengan sedikit kiasan komedi yang mana dari segi cerita digagas dari keberadaan ‘ormas’ di Denpasar yang kian mencuat,” ungkap Sutradara film Mejaguran, Herda Martin.
Film sukses lainnya yang turut dibawa yaitu How Does It Sound? yang berhasil menembus 26 besar dalam ajang Festival Film Indonesia. Berbeda dengan Mejaguran, film “How Does It Sound ?” mengangkat isu-isu yang ada di Bali, salah satunya adalah tragedi bom Bali.
“Kami ingin menggagas sebuah film mengenai isu-isu yang ada di Bali, tetapi tanpa menyinggung dan membuka kembali perasaan korban penyintas bom Bali tersebut,’ ujar Herman selaku Produser film.
Searah Creative Hub saat ini telah memiliki 6 film garapan dengan berbagai latar suasana serta genre yang berbeda – beda, yakni Pojok Penantian, Back to The Beat, Back to The Star, How Does It Sound?, Kacang Dari, Lobus, dan Mejaguran. (sur,dha)








