
KLUNGKUNG- Nasib nelayan di Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung makin memprihatinkan, di tengah naiknya harga kebutuhan sehari-hari .
Sumber penghidupan nelayan mulai pincang sejak menurunnya penyewaan jukung oleh penghobi mancing dari enam bulan belakangan ini.
Nelayan nyaris mengandalkan sumber penghidupan dari hasil tangkapan ikan. Hasil tangkapan pun tidak menentu, sangat tergantung dari situasi di laut dan kondisi cuaca. Sementara setiap kali melaut, sudah dipastikan nelayan harus merogoh kocek untuk membeli bahan bakar berkisar Rp 50.000 hingga Rp 100.000.
Terkadang nelayan pulang sama sekali tanpa hasil tangkapan. Kalaupun dapat tangkapan, hasilnya tidak sesuai dengan pengeluaran. Sering kali nelayan mengaku rugi, terlebih dalam situasi belum musim ikan. Tapi, mereka tetap melakukan rutinitas melaut setiap hari, karena tidak ada pilihan pekerjaan lain untuk menopang kebutuhan keluarga.
Seperti dituturkan oleh salah seorang nelayan Ketut Subrata (45), ditemui di Pantai Segara, Desa Kusamba, Selasa (5/4), sejak lama nelayan krisis hasil tangkapan. Kalaupun dapat tangkapan tapi jumlahnya tidak terlalu banyak. Bahkan terkadang harga ikan anjlok, sehingga membuat nelayan lebih sering merugi.
Kata pria asal Banjar Tengah, Desa Kusamba ini, biaya operasional melaut tergantung jauh dekatnya nelayan melaut.
“Kalau dekat paling habis lima puluh ribu untuk beli BBM (bahan bakar minyak). Kalau jauh habis seratus ribu. Melaut paling lama empat jam, dapat tidak dapat kita pasti balik. Hasilnya, lebih sering merugi. Apalagi tidak musim ikan, pulang tidak bawa tangkapan. Kalau pas musim ikan, ombaknya besar, kita tidak berani melaut,” ungkap Subrata.
‘Penderitaan’ nelayan tidak berhenti sampai disitu. Yang membuat nelayan makin tambah rugi, karena jaring mereka tidak jarang rusak akibat kehadiran ikan lumba-lumba dan kerap hilang ditarik akibat pertemuan arus.
Penghidupan nelayan ditopang selain dari hasil tangkapan juga oleh penyewaan jukung dari para penghobi mancing. Pas musim ikan naik, penyewaan jukung lumayan lancar, hampir setiap hari Subrata mendapatkan order penyewaan jukung.
“Kalau harga sewa jukung tergantung lokasi mancing. Kalau dekat biasanya dikasih uang delapan ratus ribu, kalau jauh bisa dikasi satu juta lebih. Kalau ada yang sewa, kita sudah pasti hasilnya dan bisa dapat lebih. Tapi belakangan ini penyewaan mulai sepi, mungkin karena belum musim ikan,” ujarnya.
Untuk mengisi waktu luang, Subrata tampak sibuk memperbaiki jaring miliknya yang rusak akibat dirusak ikan lumba-lumba.
“Kalau beli (jaring) baru, lumayan mahal. Semasih bisa diperbaiki saya perbaiki. Nelayan disini menyebut ikan lumba-lumba membawa rugi, karena sering kali merusak jaring dan memangsa ikan yang ada dalam jaring,” demikian Subrata. (yan)








