
KARANGASEM—Sektor Mineral Bukan Logam dan Batuan (MLB), manjadi satu-satunya andalan Pemkab Karangasem dalam mendongkrak pendatan asli daerah (PAD) di tengah lesunya sektor pariwisata. Mendongkrak pendapatannya itu, pemerintah setempat resmi menaikan nilai pasar hasil produksi Mineral Bukan Logam dan Batuan (MBLB). Kenaikan harga ini sebagai upaya Pemkab Karangasem dalam menaikkan pajak dari sektor MBLB.
Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Karangasem, I Wayan Ardika, Minggu (9/1/2022) mengatakan, kenaikan harga produksi MBLB di Karangasem mengacu SK Bupati nomor 453/HK/2021 tentang Nilai Pasar Hasil Produksi MBLB Kabupaten Karangasem.
“Kenaikan nilai pasar hasil produksi MBLB ini sudah berlaku sejak 1 Januari 2022,” ungkap mantan Sekretaris Dewan Karangasem itu.
Ardika menegaskan, Pemkab Karangasem memiliki beberapa pertimbangan, untuk menaikkan harga hasil produksi MBLB itu. Selain karena sudah enam tahun tidak pernah ada kenaikan, harga hasil produksi MBLB ini juga mengacu hasil survey lapangan. Karena harga material seperti pasir di Denpasar cukup tinggi.
“Kenaikan harga ini untuk kebutuhan pajak daerah dari sektor MBLB. Intinya kami menaikkan sesuai SK Bupati itu, soal berapa yang akan dijual pengusaha galian itu urusan mereka.” terang Ardika.
Beberapa material hasil produksi MBLB seperti pasir, kerikil, batu kali, pasir batu dan tanah urug. Material tersebut naik menjadi Rp 100 ribu per kubik dari harga sebelumnya, yakni Rp 75 ribu. Sementara untuk batu gajah atau boulder harganya mencapai Rp 150 ribu dan batu tabas Rp 450 ribu per kubik. Sementara dari harga tersebut, 25 persen untuk pajak.
Sementara di tahun 2022 ini, pendapatan dari sektor galian C di target cukup tinggi, Rp 75 miliar. Dengan kondisi pandemi, Ardika mengaku cukup sulit. Mengingat target yang dipasang langsung melesat tinggi dari capaian tahun 2021. Hanya saja, pihaknya akan tetap berupaya maksimal untuk memenuhi target tersebut. Salah satunya kembali meningkatkan pengawasan dengan menekan kebocoran-kebocoran di sektor galian C ini.
“Termasuk menaikkan harga hasil produksi MBLB ini,” imbuhnya.
Diakui, tantangan terbesar dalam menaikkan PAD pada sektor MBLB ini yakni mencegah kebocoran. Namun dengan upaya maksimal, pihaknya yakin bisa menekan kebocoran meski tidak 100 persen.
“Rata-rata truk yang melewati portal 1.200 an. Ke depan kami juga merancang portal berbasis digital sebagai langkah menekan kebocoran,” tandas dia. (wat/jon)








