
KARANGASEM – Pupus sudah harapan para peternak babi di Kabupaten Karangasem mendapat cuan di hari raya. Dalam tiga pekan terakhir, puluhan ekor babi dilaporkan mati mendadak tanpa penyebab pasti.
Fenomena itu terjadi di wilayah Seraya Barat, Pertima, Timbrah, hingga Perasi. Penyebab pasti kematian ternak babi tersebut belum diketahui karena sebagian besar bangkai sudah dikubur sebelum dilakukan pengambilan sampel.
Seorang peternak I Nyoman Keblek asal Desa Seraya Barat, mengaku kehilangan lima ekor babi miliknya. Ternak yang mati terdiri atas seekor indukan dan empat anak babi yang sebelumnya dalam kondisi normal.
“Punya saya ada lima ekor yang mati. Satu indukan dan sisanya anak-anak babi,” ucapnya, Kamis (25/6/2026).
Menurut Keblek, kerugian tidak hanya dialaminya. Beberapa peternak lain di lingkungan yang sama juga mengalami nasib serupa. Bahkan ada peternak yang kehilangan hingga 15 ekor babi dalam satu periode kejadian.
Harapan untuk memperoleh tambahan penghasilan menjelang Hari Raya Galungan pun pupus. “Bukannya untung malah rugi karena babi mati,” katanya.
Peternak semakin bingung lantaran kematian babi terjadi meski pola pemeliharaan dilakukan seperti biasa. Bahkan, kandang rutin dibersihkan dan pemberian pakan sesuai kebutuhan.
Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Karangasem, I Made Sugiartha mengonfirmasi ada 17 babi yang mati di Desa Pertima, 5 babi di wilayah Timbrah, 10 babi di Perasi. Sedangkan di Desa Seraya Barat jumlahnya belum diketahui pasti.
“Kami belum mengetahui secara pasti penyebabnya. Tim sudah kami turunkan ke lapangan untuk melakukan pengecekan,” ujarnya.
Terpisah, Kepala UPT Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Karangasem, I Ketut Suardita mengatakan, petugas telah mendatangi beberapa lokasi peternakan terdampak. Namun, investigasi terkendala karena bangkai ternak sudah dikuburkan sebelum pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan.
“Kami tidak sempat mengambil sampel karena babinya sudah dikubur. Jadi penyebab pasti kematiannya belum bisa dipastikan,”ujarnya.
Meski demikian, kata I Ketut Suardita, berdasarkan keterangan peternak, gejala yang muncul mirip virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika, yaitu mengalami penurunan nafsu makan, tubuh lemas, hingga muncul bercak kemerahan di bagian telinga.
Suardita menambahkan, kematian tidak terjadi secara serentak dalam satu kandang. Beberapa babi mampu bertahan hingga lebih dari satu bulan sebelum akhirnya mati.
“Tidak mati sekaligus. Ada yang bertahan sampai 35 hari, ada juga sekitar 19 hari,” katanya.
Pihak Puskeswan mengimbau peternak meningkatkan biosekuriti kandang dengan menjaga kebersihan lingkungan dan rutin melakukan penyemprotan disinfektan guna menekan risiko penyebaran penyakit yang menyerang ternak babi.








