
KARANGASEM – Di usia ke-386 tahun, Kota Amlapura tidak hanya merayakan perjalanan sejarah panjangnya. Pemerintah Kabupaten Karangasem juga menghadirkan pelayanan yang menyentuh masyarakat saat paling rentan sekaligus memberi harapan untuk masa depan yang lebih sehat.
Usai upacara Hari Jadi Kota Amlapura di Lapangan Tanah Aron, Senin (22/6/2026), enam armada mobil jenazah berwarna putih berbaris rapi. Sesaat kemudian, Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata bersama Wakil Bupati Pandu Prapanca Lagosa mengibaskan bendera tanda dimulainya layanan Loka Agung, program antar jenazah gratis yang akan melayani seluruh wilayah di Bumi Lahar.
Bagi sebagian orang, mobil jenazah mungkin hanya kendaraan. Namun, bagi keluarga yang sedang berduka, terutama mereka yang hidup dalam keterbatasan ekonomi, kendaraan itu bisa menjadi penolong di saat yang paling berat.
Pemerintah Kabupaten Karangasem memahami bahwa kesedihan sering kali datang bersamaan dengan berbagai beban lain. Tidak sedikit keluarga yang harus memikirkan biaya pengantaran jenazah di tengah suasana kehilangan orang tercinta.
Karena itulah Loka Agung hadir sebagai bentuk kepedulian pemerintah kepada masyarakatnya.
“Pelayanan pemerintah harus hadir sejak masyarakat lahir hingga akhir hayatnya,” demikian pesan yang ingin diwujudkan melalui program tersebut.
Namun, langkah baru Karangasem tidak berhenti pada pelayanan saat duka. Pada momentum yang sama, pemerintah juga meluncurkan Desa dan Kelurahan Siaga Tuberkulosis (TBC), sebuah gerakan bersama untuk melawan salah satu penyakit menular yang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat.
Jika Loka Agung hadir untuk meringankan beban saat kehilangan, Desa Siaga TBC hadir untuk menjaga agar lebih banyak warga tetap sehat dan produktif. Program ini mendorong keterlibatan masyarakat dalam pencegahan, penemuan kasus, pendampingan pengobatan, hingga edukasi kesehatan secara berkelanjutan.
Melalui desa-desa yang siaga, pemerintah berharap penanganan TBC tidak hanya menjadi urusan tenaga kesehatan, tetapi menjadi gerakan bersama yang melibatkan keluarga, lingkungan, dan seluruh elemen masyarakat.
Di balik dua program yang diluncurkan tersebut tersimpan pesan yang kuat. Pembangunan tidak selalu berbentuk jalan, gedung, atau infrastruktur fisik. Pembangunan juga dapat hadir dalam bentuk pelayanan yang mengurangi beban warga saat berduka dan upaya menjaga kesehatan masyarakat agar dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Pada usia ke-386 tahun, Amlapura seakan mengingatkan bahwa kemajuan daerah tidak hanya diukur dari apa yang berhasil dibangun, tetapi juga dari seberapa besar pemerintah mampu hadir di tengah kebutuhan masyarakatnya.
Dari duka yang membutuhkan kepedulian hingga harapan akan generasi yang bebas TBC, Karangasem sedang menapaki langkah baru. Sebuah langkah yang menempatkan kemanusiaan sebagai inti pembangunan, sejalan dengan semangat Hari Jadi Kota Amlapura tahun ini “Tidak Mudah Tapi Harus Bisa. (*)








