
JAKARTA – Tidak banyak yang mengetahui di balik senyum yang kini menghiasi wajah Iin Sutiyani menyimpan lembaran cerita panjang tentang perjuangan melawan tekanan ekonomi.
Perempuan asal Yogyakarta yang mengelola usaha mikro ini pernah berada di titik menjalani hidup seperti berlomba dengan waktu, dan tagihan yang tak kunjung berhenti.
Beberapa tahun lalu, Iin harus mengandalkan usaha kecil untuk menopang kebutuhan keluarga di tengah kondisi suaminya yang sakit.
Situasi serba sulit itu membuatnya terpaksa mencari pinjaman cepat demi mempertahankan usaha dan memenuhi kebutuhan rumah tangga. Namun, kemudahan yang ditawarkan rentenir justru menghadirkan permasalahan baru.
Setiap hari, sebagian hasil usahanya habis untuk membayar cicilan. Bunga yang tinggi membuat keuntungan usaha nyaris tak tersisa.
Alih-alih berkembang, usaha yang menjadi harapan keluarga justru jalan di tempat karena terus dibayangi kewajiban membayar utang.
“Dulu rasanya seperti dikejar-kejar setiap hari. Bukan hanya memikirkan dagangan harus laku, tetapi juga tagihan yang terus datang. Tekanannya sangat berat,” kenang Iin.
Titik balik mulai datang ketika Iin Sutiyani bergabung menjadi nasabah Program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Melalui akses pembiayaan yang lebih aman dan pendampingan usaha, ia perlahan mampu menata kembali kondisi keuangan keluarganya.
Tidak hanya modal usaha, ia juga memperoleh pembinaan yang membantunya mengelola usaha dengan lebih baik. Sedikit demi sedikit, usahanya berkembang dan beban yang selama ini menghimpit mulai berkurang.
Perjalanan yang tidak mudah itu kini membawanya pada pengalaman yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Dari seorang pelaku usaha kecil yang pernah terjebak dalam lingkaran utang, Iin kini mendapat kesempatan memasarkan produk hingga tingkat nasional.
“Sekarang saya bisa menjalankan usaha dengan lebih tenang. Kesempatan seperti ini membuat saya semakin percaya diri bahwa usaha kecil juga bisa berkembang dan dihargai,” ujarnya.
Direktur Utama PNM, Kindaris, mengatakan pemberdayaan masyarakat tidak hanya berhenti pada penyaluran modal, tetapi juga membuka akses dan peluang agar pelaku usaha ultra mikro dapat bertumbuh.
Menurutnya, banyak perempuan pelaku usaha yang sebenarnya memiliki potensi besar, namun kerap terhambat oleh keterbatasan akses pembiayaan dan pasar.
“Ketika perempuan ultra mikro diberikan kesempatan untuk berkembang, yang bergerak bukan hanya usahanya, tetapi juga kesejahteraan keluarga dan ekonomi di sekitarnya,” kata Kindaris, Selasa (23/6/2026).
Kisah Iin menjadi salah satu contoh bagaimana akses pembiayaan yang tepat dapat mengubah kehidupan masyarakat. Dari tekanan rentenir hingga memiliki kesempatan memperluas pasar, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa usaha mikro dapat menjadi jalan menuju kemandirian ekonomi ketika didukung ekosistem yang memadai.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pemberdayaan pelaku usaha ultra mikro, PNM melibatkan 20 nasabah Mekaar untuk berjualan pada gelaran Grand Final Pro Futsal League (PFL) 2026.
Dalam ajang futsal nasional yang mempertemukan tim-tim terbaik Indonesia itu, para nasabah diberi kesempatan memperkenalkan produk mereka kepada ribuan pengunjung. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa panggung olahraga tidak hanya melahirkan juara di lapangan, tetapi juga membuka peluang bagi pelaku usaha kecil untuk naik kelas dan berkembang. (*)








