
BULELENG – Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Swatantra, turut serta dan meriahkan kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar Pemkab Buleleng, Minggu (14/6/2026).
Selain menyediakan berbagai jenis bahan pokok (bapok), pada momentum yang digelar serangkaian peringatan Hari Suci Galungan dan Kuningan, badan usaha milik pemerintah daerah yang bergerak dibidang multi usaha ini juga memperkenalkan produk inovasi ‘Beras Jegeg Buleleng’.
“Beras dengan kemasaan Jegeg Buleleng ini merupakan produk hilirisasi dari ekosistem pertanian yang dibangun bersama Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan Buleleng,BPD Bali dan Subak Sidayu Kelurahan Penarukan Kecamatan Buleleng,” ungkap Direktur Utama (Dirut) Perumda Swatantra, Gede Boby Suryanto usai acara Gerakan Pangan Murah di arena Car Free Day, Jalan Ngurah Rai Singaraja.
Boby Suryanto menandaskan beras ‘Jegeg Buleleng’ merupakan bagian hilirisasi produk dari ekosistem hulu hilir pertanian khususnya komoditi beras yang tidak hanya diharapkan dapat memperkuat cadangan pangan daerah dan ketahanan pangan nasional, tapi juga sekaligus menjadi kebanggaan petani serta masyarakat Buleleng.
“Beras lokal Buleleng dengan brand Jegeg Buleleng sudah diperkenalkan dan dipasarkan ke seluruh kabupaten/kota di Bali, dalam kemasan 5 kg dan 10 kg, dengan harga yang tentunya lebih murah dari beras lainnya, di kisaran Rp75 ribu/5 kg,” ungkapnya.
Selain menjadi kebanggaan, hadirnya Beras ‘Jegeg Buleleng’ bersama bahan pangan pokok lainya serperti gula, minyak goreng, bawang merah dan bawang putih pada Gerakan Pangan Murah ini juga diharapkan dapat menjadi pilihan bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hari raya dengan harga terjangkau.
Ia menambahkan, upaya pengembangan ekosistem hulu hilir pertanian yang dikolaborasikan dengan sistem kerjasama Tripatit, antara Subak Sidayu selaku operasional dan produksi, BPD Bali selaku pembiayaan dan Perumda Swatantra bersama DP2KP Buleleng selaku pembinaan sekaligus offtaker, sedang dilakukan pada komoditi jagung.
“Produksi jagung di Kecamatan Gerokgak sedang kita kelola menjadi ekosistem hulu hilir pertanian, dimana hasil panen jagung diserap dan diolah menjadi berbagai produk termasuk pakan ternak yang nantinya disuplay ke peternak ayam petelur maupun pedaging, sementara kotoran ayam dimanfaatkan sebagai pupuk yang dibutukan petani,” jelasnya.
Ekosistem hulu hilir pertanian ini, tidak hanya diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani, tapi juga dapat memenuhi kebutuhan pangan daerah dan ketanahanan pangan nasional.
“Selain penguatan ekosistem hulu hilir, kita juga sudah memperkuat kerjasama antar Perumda se-Bali dalam memenuhi kebutuhan pangan dan menjaga stabilitas harga bahan pokok untuk mencegah terjadinya inflasi,” pungkasnya.(*)








