89 Lontar Prasi Disuguhkan dalam Pameran Bulan Bahasa Bali

0
83
PAMERAN : Karya Lontar Prasi dalam rangka Bulan Bahasa Bali di Taman Budaya.

DENPASAR – Lontar dalam seni rupa klasik menarik untuk diamati bagi generasi muda kekinian. Khasanah seni menggambar dengan medium daun lontar dapat disaksikan dalam pameran atau Prasara serangkaian pelaksanaan Bulan Bahasa Bali.

Tahun ini, Dinas Kebudayaan (Disbud) Provinsi Bali menyelenggarakan Prasara bertajuk “Prasikala Nukilan Taru Mahottama” di gedung pameran Kriya Hall Art Center, Taman Budaya, dengan ruang dan properti pameran berbahan alam yang kontekstual dengan lontar.

Prasara sebulan penuh (1-28 Februari 2021) ini pasti menarik karena melibatkan 60 seniman dari lintas generasi yang menghadirkan 89 karya lontar prasi. “Ini merupakan pameran seni prasi terbesar dan terlengkap di Bali. Pameran juga dilengkapi dengan tayangan video pameran virtual yang disebar melalui media sosial. Jadi, masyarakat dapat menyaksikan pameran ini dengan protokol kesehatan Covid-19 dan melalui media virtual kanal Youtube DisbudProv Bali,” kata Kadis Kebudayaan Bali I Wayan Kun Adnyana.

I Wayan Sujana Suklu selaku kurator mengatakan, koleksi Taman Budaya dan Pusat Dokumentasi Lontar Disbud Provinsi Bali juga dihadirkan dalam Prasara ini. Selain menampilkan lontar prasi yang terus mengalami perkembangan bentuk, tema, dan perlakuan medium, juga menghadirkan dua karya instalasi berjudul “Taru Manah” karya Made Ruta dan “Pula Kerti Anyar” karya Made Suparta. Kedua karya ini menggunakan daun ental sebagai elemen utama. Sementara “Megibung” adalah karya partisipatori pemirsa yang berkesempatan berkarya di ruang pameran, disediakan tiga site sebagai tempat pemajangan karya bersama.

Tiga generasi mewakili jamannya tampil bersama pada perhelahan prasara prasikala, yakni Gusti Bagus Sudiasta dari Bungkulan Buleleng. Selain sebagai penekun lontar prasi, ia juga seorang dalang, penembang, pembuat tapel (topeng), dan keterampilan lainnya yang dibutuhkan dalam adat dan budaya Bali.

Selanjutnya, hadir karya Wayan Mudita Adnyana dari Tenganan, Karangasem. Selain sebagai perupa lontar prasi, ia juga seorang dalang, penembang, dan pemusik gender yang handal.

Prasara kali ini juga menghadirkan perupa generasi baru yang sebagian besar perupa akademis mengembangkan gagasan-gagasannya dalam upaya menjawab tantangan masa kini. Mereka melihat tradisi sebagai sejarah yang terus berkembang. Eksplorasi ide-ide dan keterampilan dalam menaklukkan material dan teknik terus dikembangkan, sehingga menemukan bahasa ekspresi lebih dinamis dengan meminjam pola lontar prasi. Komunitas pengembang lontar prasi yakni; “Komunitas Operasi” 14 anggotanya anak-anak muda energik dari alumnus Undiksha dan “Komunitas Amarasi” beranggotakan mahasiswa DKV FSRD ISI Denpasar.

Sementara, perupa lebih senior Made Ruta dan Made Suparta menampilkan karya instalasi, daun ental bukanlah media ruang ilusi, daun ental dijadikan objek menjalar di ruang-ruang kongkrit, membangun penanda-penanda baru terhadap ruang. “Dinas Kebudayaan Provinsi Bali melalui event Bulan Bahasa Bali sangat tepat mengambil langkah memuliakan, mengembangkan dan menjangkar lontar prasi melalui presentasi ke ruang publik. Rupa serta akar dan makna lontar prasi juga akan dibincangkan melalui seminar dan workshop yang akan digelar serangkaian pameran,” ungkapnya.

Suklu yang juga Dosen ISI Denpasar ini menegaskan, Prasara “Prasikala Taru Mahottama” berambisi mengadirkan raga lontar prasi Bali yang mengalami dinamika dari musim ke musim. Cara pandang, sikap, dan kerja kreatif seniman yang beragam menunjukkan artikulasi sangat kaya yang tetap mengacu pada tradisi dan budayamasa lalu. Para perupa yang hidup pada kultur yang khas memberi jalan kreatif yang khas pula, kepiawaian aspek ketrampilan yang masih diyakini sebagai cara ungkap untuk menyampaikan pesan. Prasikala dalam pameran ini membaca lebih luas pentingnya gelagat perubahan lontar prasiabad lalu sampai masa kini baik bentuk, konsep, serta konteks. (sur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here