
DENPASAR – Usai melakoni try in atau ujicoba di Bali dengan pebulutangkis senior maupun pebulutangkis junior, sementara ini Pengprov PBSI Bali menilai jika evaluasi hasil try in paling utama yang menjadi kendala yakni penggunaan shuttlecock, yang mendadak diumumkan PB PBSI untuk Babak Kualifikasi (BK) PON.
Shuttlecock berbeda antara yang biasa digunakan di Sirkuit Nasional (Sirnas) yang digunakan latihan tim bulutangkis Bali selama ini dengan di BK PON 2023 nantinya.
“Memang untuk di BK PON cabang olahraga (cabor) bulutangkis yang digelar 17 – 23 di DI. Yogyakarta nantinya menggunakan shuttlecock merk Mikasa 77. Jadi ada perbedaa dan secepatnya tim bulutangkis Bali beradaptasi lagi. Karena shuttlecock ini agak lambat berbeda dengan yang digunakan di Sirnas cukup cepat,” tutur ofisial yang juga Sekretaris Umum (Sekum) Pengprov PBSI Bali, IGB Arya Candra Palasara di Denpasar, Minggu (30/7/2023).
Dengan waktu yang mepet sekitar 20 hari menjelang BK PON 2023 dirinya meminta meski di Hari Raya Galungan dan Kuningan, para pebulutangkis bisa sempat menjaga kondisi kebugaran fisiknya dan terus beradaptasi dengan cepat, atau menyatukan diri antara pukulan dengan shuttlecock tersebut.
Di lain pihak, Binpres PBSI Bali Ketut Arjana mengevaluasi jika untuk tim putra meski menang try in menghadapi para seniornya 3-2 namun secara mental perlu dipertebal lagi. Pasalnya, masih belum bisa bermain secara nyaman.
“Kalau untuk tim putri yang kalah 1-4 dari pebulutangkis putra junior terbaik Bali, namun memiliki keberanian dalam berlaga. Hanya memang dari sisi power tim putri kalah karena lawannya merupakan pebulutangkis putra meski junior. “Masih ada waktu untuk diperbaiki lagi baik untuk im putra maupun putri. Semoga saat berlaga di BK PON 2023 semuanya dalam kondisi peak performance,” tandas Ketut Arjana. (ari/jon)








