
DENPASAR – Bali resmi terpilih sebagai lokasi gelaran kompetisi cliff diving (loncat tebing) internasional. Ajang perdana di Indonesia ini mengambil latar di destinasi ikonik, Broken Beach, Nusa Penida.
Sebanyak 24 atlet kelas dunia bakal berlaga dalam kompetisi bertajuk Red Bull Cliff Diving World Series 2026 ini. Mereka akan menantang nyali dengan melompat ke perairan hangat Samudra Hindia dari ketinggian 21 meter untuk kategori wanita dan 27 meter untuk kategori pria.
Untuk kategori atlet wanita, nama-nama yang akan bersaing antara lain: Ginni Van Katwijk (Belanda), Kaylea Arnett (Amerika Serikat), Lisa Faulkner (Amerika Serikat), Molly Carlson (Kanada), Nelli Chukanivska (Ukraina), Rhiannan Iffland (Australia), Simone Leathead (Kanada), Xantheia Pennisi (Australia), Elisa Cisetti (Italia), Maria Paula Quintero (Kolombia), Stella Forsyth (Australia), dan Morgane Herculano (Swiss).
Sementara itu, kategori pria akan dimeriahkan oleh: Carlos Gimeno (Spanyol), Catalin Preda (Rumania), Constantin Popovici (Rumania), Gary Hunt (Prancis), James Lichtenstein (Amerika Serikat), Jonathan Paredes (Meksiko), Oleksiy Prygorov (Ukraina), Aidan Heslop (Britania Raya), Andrea Barnaba (Italia), Nikita Fedotov (Armenia), Yoloti Martinez (Meksiko), serta Miguel Gracia (Kolombia).
Sebagai informasi, kompetisi ini awalnya direncanakan berlangsung di Indonesia pada tahun 2020 lalu. Namun akibat pandemi, gelarannya terpaksa ditunda dan baru bisa terealisasi tahun ini.
Direktur Olahraga Red Bull Cliff Diving World Series, Orlando Duque mengungkapkan, ajang ini merupakan kompetisi olahraga ekstrem yang menguji adrenalin. Penentuan lokasi penyelenggaraan pun harus melalui perhitungan yang matang, termasuk mempertimbangkan keunikan tempat tersebut.
“Pada Red Bull Cliff Diving World Series, setiap atlet dituntut beradaptasi. Karena lokasi-lokasinya memiliki karakter yang berbeda-beda. Seperti di Italia, itu bisa saja melompat dari balkon rumah, sementara di Bali itu dari tebing. Itulah yang membuat spesial,” sebut Orlando.
Pemilihan Bali sebagai lokasi kompetisi, tidak lepas dari keunikan dan keindahan alam sempurna yang ditawarkan. Selain di Broken Beach, penyelenggara awalnya juga berencana menggunakan Air Terjun Kroya. Namun, faktor cuaca yang memicu peningkatan sedimentasi, memaksa seluruh ronde dialihkan sepenuhnya ke Broken Beach.
“Beberapa hari sebelum kita mengadakan ronde 1 dan 2, ternyata akibat dampak cuaca, terjadi sedimentasi. Ini membuat kedalaman air di Kroya yang awalnya sudah cukup aman untuk kompetisi, menjadi berkurang. Karena kami juga mengutamakan keselamatan para atlet, akhirnya kami memutuskan membatalkan pelaksanaan ronde 1 dan 2 di Kroya. Tapi siapa tahu, tahun depan kami bisa melakukannya di sana,” ucapnya.
Sementara itu, Komandan Pusat Teritorial Angkatan Laut (DanpusterAL) Laksamana Pertama TNI Albertus Agung Priyo Suseno menyampaikan, kompetisi level dunia ini sangat selaras dengan agenda pemerintah, khususnya dalam mengembangkan sektor sport tourism (wisata olahraga). “Kerja sama antara Red Bull dan TNI AL mencerminkan komitmen bersama dalam mendukung promosi pariwisata bahari Indonesia,” ucapnya.
Selain dari TNI AL, dukungan terhadap penyelenggaraan kompetisi ini juga datang dari Pemerintah Provinsi Bali. Mengingat sport tourism, kini notabene menjadi salah satu fokus utama dalam pengembangan pariwisata di Pulau Dewata. “Konsep ini terus didorong pemerintah untuk menyebarkan daya tarik wisata agar tidak terpusat di Bali Selatan. Kami mengikuti tren wisata dunia dengan sports tourism-nya, namun tetap berbasis kearifan lokal budaya Bali,” sebut Kepala Bidang Destinasi Pariwisata di Dinas Pariwisata Provinsi Bali, AA Made Anggia Widana.
Penyelenggaraan kompetisi ini, sambung dia, sekaligus menjadi bukti nyata bahwa keunikan geografis di luar kawasan Bali Selatan juga menyimpan potensi sport tourism yang sangat menjanjikan. Momentum ini sekaligus menjadi simbol bahwa Bali terus berkembang dalam menghadirkan atraksi menarik serta pengalaman baru bertaraf internasional. (adi)








