
BULELENG – Penjabat (Pj) Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana membuka kegiatan Gerakan Memajukan Usaha Kecil Menengah (Gema UKM) Buleleng tahun 2022. Selain mengapresiasi terobosan Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (DP2K-UKM) sebagai upaya perluasan pemasaran produk UMKM, pada acara yang diikuti pelaku UMKM, Koperasi serta stakeholder terkait ini juga disampaikan seruan ‘Cinta Produk Sendiri’ dan Gema UKM sebagai upaya percepatan pemulihan ekonomi terintegrasi.
“Pemkab Buleleng berkomitmen membangkitkan dan memberdayakan UMKM Buleleng tidak hanya untuk naik kelas, tapi juga mendorong Gema UKM sebagai upaya percepatan pemulihan dan penguatan perekonomian daerah,” tandas Pj Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana saat membuka kegiatan Gema UKM Buleleng Tahun 2022 di Gedung Kesenian Gde Manik Singaraja, Kamis (8/12/2022).
Kepala BKPSDM Provinsi Bali ini menegaskan, sesuai dengan tema kegiatan ‘Mewujudkan UKM Naik Kelas, Tangguh, Adaptif dan Kolaboratif Mendukung Transformasi Ekonomi Kerti Bali’, Gema UKM Buleleng juga diharapkan dapat mewujudkan sebuah kekuatan ekonomi yang mampu berperan dalam pengendalian inflasi dan percepatan pemulihan perekonomian daerah.
“Penguatan ekonomi bisa kita lakukan kalau UMKM dan sektor pertanian diintegrasikan dengan sektor pariwisata, itu akan menjadi sebuah kekuatan ekonomi yang luar biasa,” tegasnya. Pariwisata tidak bisa dijadikan sektor penopang perekonomian sepenuhnya, karena merupakan sektor yang resisten baik dengan isu keamanan, bencana, hingga penyakit.
“Sehingga, jika pariwisata kolaps, tentunya akan berdampak pada sektor penunjangnya. Diperlukan desain ulang kebijakan ekonomi yang lebih berpihak pada potensi lokal dan pemberdayaan UMKM,” ungkapnya.
Ia menandaskan, ada 3 strategi telah disiapkan untuk mendorong pemberdayaan 57.216 pelaku UMKM di Kabupaten Buleleng yang memiliki varian produk melimpah dan kualitas yang bagus. “Ada tiga strategi untuk memajukan UMKM Buleleng, pertama membuat masyarakat Buleleng bangga menggunakan produk UMKM, produk lokal Buleleng. Kedua, memperbaiki kemasan produk UMKM, karena produk UMKM kita masih lemah dalam kemasan dan pemasaran,” terangnya.
Dengan adanya Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) di Kabupaten Buleleng, pembinaan terkait desain kemasan diharapkan dapat lebih maksimal sehingga produk UMKM Buleleng memiliki nilai jual.
“Strategi ketiga adalah pengelompokan UMKM berdasarkan skala bisnis, mulai dari pemula, muda, madya, utama hingga mandiri. Kedepan, upaya mewujudkan UMKM naik kelas terus dilakukan dengan memberikan fasilitas dan pembuatan tata niaga bisnis produk UMKM,” tandasnya.
Penguatan UMKM Buleleng, kata Lihadnyana, juga dilakukan dengan melibatkan tim kurasi untuk menilai dan menyeleksi UMKM yang layak naik kelas dan Go Publik. “Tim kurasi melakukan penilaian terhadap seluruh sehingga sistem yang telah dirancang baik dari promosi, hingga kanal-kanal digital dapat berguna dan tepat sasaran serta membantu UMKM meningkatkan kualitas dan daya saing. Tim kurasi juga akan mengeluarkan rekomendasi UMKM ke dinas untuk mendapatkan pembinaan,” jelasnya.
Alur dan proses bisnis atau tata niaga bisnis produk UMKM diharapkan mempercepat terwujudnya UMKM naik kelas dan pemulihan ekonomi. “Begitu alur dan proses bisnis dari pemberdayaan UMKM ini sudah bergerak dan komitmen masyarakat sudah bangkit, rasa jengahnya untuk lebih memprioritaskan produk lokal kita, saya yakin seperti apapun goncangan ekonomi global, pengaruh atau dampaknya tidak akan terlalu berat,” pungkasnya. (kar,dha)








