
DENPASAR — Program Sastra Masuk Kurikulum menjadi angin segar sekaligus tantangan besar bagi dunia pendidikan di Indonesia.
Topik krusial ini dibahas dalam Lokakarya “Sastra Masuk Kurikulum, Di Mata Para Guru” yang diselenggarakan Senin (20/7/2026) di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Denpasar. Acara ini menjadi bagian dari rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) 2026.
Lokakarya yang dipandu Dr. I Nyoman Tingkat menghadirkan dua narasumber, Dr. I Wayan Artika dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) dan I Gede Aries Pidrawan, Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia Kabupaten Karangasem. Peserta berasal dari kalangan guru, dosen, pelajar, dan mahasiswa.
Dua narasumber sepakat kebijakan sastra masuk kurikulum langkah tepat, namun memerlukan ekosistem pendukung yang kuat agar tidak sekadar menjadi aturan di atas kertas.
Artika menekankan pentingnya melihat karya sastra bukan sekadar sebagai hiburan, melainkan sebagai sebuah laboratorium kehidupan.
”Teori itu lahir dari pembacaan. Untuk memahami alur, latar (setting), dan penokohan dengan baik, minimal bacalah satu atau dua novel yang berkualitas,” ungkap Artika.
Ia menilai ide memasukkan sastra ke dalam kurikulum sangatlah bagus.
Namun, pertanyaan besarnya adalah siapa yang akan mengawal kebijakan ini? Di sinilah peran guru dan dosen menjadi sangat vital, yaitu sebagai pembimbing yang mampu membentuk dan melahirkan penulis-penulis baru.
Artika juga menyoroti tantangan berat di era modern, seperti derasnya digitalisasi, menjamurnya informasi instan, dan dominasi media sosial yang membuat kemampuan membaca mendalam (deep reading) menurun drastis.
Akibatnya, muncul masalah baru di kalangan pelajar, diantaranya jarang membaca buku secara utuh, pemahaman teks yang dangkal, dan presentasi akademis yang terjebak pada formalitas tanpa makna yang dalam.
Guru sebagai Kunci Ekosistem Sastra di Sekolah
Sementara itu Aries Pidrawan menyoroti realitas di lapangan. Menurutnya, salah satu komponen ekosistem sastra yang saat ini kurang menggeliat justru adalah guru itu sendiri.
”Bagaimana mungkin kita bisa mengajak siswa mencintai sastra, jika gurunya sendiri tidak suka dan tidak paham sastra,” ujar Aries.
Selama ini, sastra masih dianggap sebagai “materi tempelan” atau pelengkap dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Pembelajarannya pun cenderung teoretis dan berorientasi pada hafalan.
Kendala lainnya, belum ada gerakan kolektif di sekolah yang dipicu oleh beberapa faktor, mulai dari riuh rendah media sosial, rendahnya budaya baca, kompetensi guru yang terbatas, hingga kebijakan sekolah yang kurang mendukung.
Bagi Aries Pidrawan, momentum “Sastra Masuk Kurikulum” harus menjadi titik balik penguatan sastra di sekolah, mengubahnya dari materi tempelan menjadi bagian inti yang penting.
Untuk mewujudkannya, ia menawarkan dua strategi utama.
Pertama, membudayakan sastra. Fokus pada menumbuhkan budaya baca dan pembiasaan di lingkungan sekolah.
Gerakan ini bersifat internal dan harus melibatkan seluruh warga sekolah agar sastra menjadi bagian dari keseharian mereka.
Kedua, memberdayakan sastra. Fokusnya pada penyediaan ruang untuk berkarya bagi siswa. Langkah konkretnya meliputi menyelenggarakan lomba-lomba sastra, melakukan digitalisasi karya sastra agar relevan dengan zaman, membangun jejaring dengan komunitas sastra di luar sekolah.
Lokakarya ini memberikan sinyal kuat bahwa keberhasilan kurikulum sastra yang baru tidak hanya bertumpu pada dokumen kebijakan, melainkan pada kesiapan guru sebagai ujung tombak dan kemampuan sekolah dalam menciptakan ekosistem literasi yang sehat di tengah gempuran era digital. (*)








