
GIANYAR – Arus modernisasi dan dominasi penggunaan bahasa Indonesia serta bahasa asing di ruang publik mulai menggerus penggunaan bahasa Bali dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran berbagai kalangan, karena generasi muda dinilai semakin jarang menggunakan bahasa Bali, bahkan dalam lingkungan keluarga.
Jika tidak ada upaya serius untuk melestarikannya, bahasa daerah yang menjadi identitas budaya masyarakat Bali ini dikhawatirkan perlahan akan semakin terpinggirkan. Menurut Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Provinsi Bali I Wayan Suarmaja, S.Pd.B, penurunan penggunaan bahasa daerah ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dipicu oleh akumulasi berbagai faktor yang saling berkelindan. Suarmaja menyoroti perubahan paling mendasar terjadi di benteng terkecil masyarakat, yakni keluarga.
“Saat ini, fungsi bahasa Bali sebagai bahasa ibu atau bahasa pertama yang diperkenalkan orang tua kepada anak-anaknya mulai memudar,” kata Suarmaja, Senin (9/3/2026).
Pria asal Desa Buahan, Kecamatan Payangan, Gianyar ini melihat Generasi muda cenderung mencampur bahasa Bali dengan bahasa lain karena rasa tidak percaya diri atau ketidakmampuan menggunakan kosa kata yang tepat. Fenomena inilah yang menjadi hambatan utama bagi keberlangsungan penutur asli di masa depan.
Menghadapi tantangan tersebut, baginya perlu strategi yang lebih inklusif dan adaptif.
“Sosialisasi kini merambah media digital agar pesan pelestarian bisa menembus batas ruang dan waktu, menyentuh layar gawai setiap anak muda Bali,” kata Suarmaja.
Suarmaja berpendapat bahwa bahasa Bali harus masuk ke dalam gaya hidup masa kini baik melalui konten kreatif, kutipan media sosial (quotes), hingga lirik lagu.
“Adalah upaya nyata untuk mengikuti perkembangan zaman agar masyarakat lebih mudah terlibat tanpa merasa terbebani oleh aturan yang kaku,” demikian Suarmaja.
Penurunan penggunaan Bahasa Bali juga menjadi sorotan anggota DPR RI Nyoman Parta.
“Sekarang memadik nak istri saja sudah memakai bahasa Indonesia. Jarang menggunakan bahasa Bali. Lebih dari 50 persen anak muda Bali memakai bahasa campuran, 27 persen masih menggunakan bahasa Bali secara utuh, baik halus, kasar maupun pergaulan. sekitar 13 persen anak muda Bali sudah tidak lagi menggunakan bahasa Bali dalam keseharian. Ini tentu mengkhawatirkan,” kata Parta. (dar,yan)








