
KLUNGKUNG – Lemahnya pengawasan orang asing di Nusa Penida kembali menjadi sorotan. Setelah publik dihebohkan video tak pantas dua Warga Negara Asing (WNA) di Pantai Kelingking, kini insiden serupa terulang. Dua WNA kembali berulah dengan nekat tidur di kawasan suci Pura Segara Penida, Desa Sakti, sebuah tempat ibadah yang disakralkan oleh masyarakat setempat.
Peristiwa ini memantik keprihatinan sekaligus kemarahan warga. Aksi dua wisatawan asing tersebut dinilai mencerminkan tumpulnya pengawasan serta minimnya edukasi budaya terhadap wisatawan yang berkunjung ke Nusa Penida, pulau yang selama ini dikenal dengan keindahan alam dan kuatnya nilai adat Bali.
Dalam video yang viral di media sosial, kedua WNA terlihat tidur beralaskan matras tipis di area pura tanpa mengenakan kamen sebagaimana ketentuan memasuki kawasan suci. Saat dipergoki warga, salah satu WNA buru-buru merapikan matras, sementara rekannya langsung mengambil ransel. Keduanya diketahui merupakan wisatawan backpacker.
Kejadian tersebut dinilai berpotensi mencederai kesucian tempat ibadah, sekaligus mempertegas kekhawatiran akan dampak negatif pariwisata massal yang tidak dibarengi pengawasan ketat dan edukasi budaya.
Salah seorang warga Nusa Penida, Ketut Setiawan, menyebut peristiwa itu sebagai gambaran maraknya wisatawan asing yang tidak berkualitas.
“Biasanya wisatawan seperti ini backpacker yang mengedepankan gaya hidup hemat. Padahal di Nusa Penida banyak hotel dan penginapan murah. Wisatawan backpacker seperti ini tidak memiliki andil signifikan bagi pariwisata,” ujarnya, Kamis (18/12/2025).
Menurutnya, Bali sudah saatnya beralih fokus pada pariwisata berkualitas, bukan sekadar mengejar jumlah kunjungan. Ia menilai perilaku wisatawan berulah tidak hanya terjadi di Nusa Penida, tetapi juga di berbagai daerah lain di Bali.
“Sekarang jangan hanya ramai dengan wisatawan one trip. Tapi harus wisatawan yang benar-benar menghabiskan uang liburannya di Nusa Penida, sehingga dampaknya bisa dirasakan langsung oleh warga,” jelas pelaku pariwisata tersebut.
Hal senada disampaikan warga lainnya, Gede Anggra Putra. Ia mendorong adanya petugas yang berjaga di kawasan pura, terutama karena Pura Sad Kahyangan Segara Penida berdampingan langsung dengan destinasi wisata Pantai Crystal Bay.
“Kita masuk pura saja harus pakai kamen dan diperciki tirta penglukatan. Ini WNA seenaknya saja. Mungkin tidak paham, tapi harus ada petugas yang berjaga,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Klungkung, I Dewa Ketut Sueta Negara, mengakui pengawasan orang asing di Klungkung, khususnya Nusa Penida, masih belum optimal.
“Pengawasan orang asing di Nusa Penida memang masih tumpul. WNA itu biasanya takut dengan imigrasi karena ada sanksi deportasi, sehingga kami melibatkan Tim POA (Pengawasan Orang Asing),” ujarnya.
Namun, ia mengakui keterbatasan personel menjadi kendala, mengingat Kantor Imigrasi Kelas I TPI Denpasar harus mengawasi lima kabupaten sekaligus sehingga tidak bisa rutin turun ke Nusa Penida.
“Pengawasan seharusnya dilakukan secara berkala. Yang paling efektif adalah pengawasan partisipatif, melibatkan kepala desa, bendesa adat, pecalang, hingga linmas,” ungkapnya.
Ke depan, Sueta Negara mengusulkan pembentukan satuan tugas khusus pengawasan orang asing di tingkat lokal. Dengan demikian, setiap kejadian dapat segera dilaporkan dan ditindaklanjuti bersama pihak imigrasi.
“Pemerintah desa paling tahu kondisi wilayahnya. Jika ada kejadian, bisa cepat dilaporkan agar segera ditangani,” tegasnya. (yan)








