
KLUNGKUNG – Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan, resmi diluncurkan sebagai Desa Tanaman Obat Keluarga (TOGA), Selasa (30/9/2025) di Balai Banjar Nyamping. Peluncuran ini menandai langkah penting dalam pelestarian warisan leluhur, penguatan kemandirian kesehatan berbasis herbal, serta pemanfaatan lahan desa yang sebelumnya tidak produktif.
Program ini tidak hanya bersifat seremonial, melainkan hasil sinergi antara pemerintah desa, akademisi Universitas Udayana (Unud), dan masyarakat setempat. Melalui Program PPK-ORMAWA, Himpunan Mahasiswa Mesin Fakultas Teknik Unud menggulirkan gerakan Seri-Luh-Toga (Serius Lestarikan Tanaman Obat Keluarga) dan Asman TOGA (Asuhan Mandiri TOGA) sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat.
Mahasiswa Unud Turun Langsung Dampingi Masyarakat
Ketua UPKP Unud sekaligus dosen pendamping, Dr. Ir. Wayan Nata Septiadi, ST, MT, menjelaskan program ini merupakan implementasi dari kebijakan Kementerian untuk mempercepat pencapaian SDGs Desa, khususnya di bidang kesehatan, pangan, dan kesejahteraan.
“Kampung TOGA ini terkait dengan tiga MDGs sekaligus: ketahanan pangan, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta peningkatan pengetahuan dan perekonomian masyarakat,” kata Septiadi.
Menurutnya, keterlibatan mahasiswa tidak sebatas edukasi, melainkan juga membentuk kelompok Asuhan Mandiri TOGA (Asman TOGA). Hingga kini, mahasiswa telah membentuk 183 Asman TOGA atau sekitar 12 persen dari total 1.504 kepala keluarga di Desa Gunaksa, melebihi target minimal 10 persen yang ditetapkan Kementerian.
“Setiap Asman TOGA memiliki taman obat dengan plang edukasi. Selain itu, mahasiswa juga membuat peta biodiversitas baik manual maupun berbasis aplikasi untuk memudahkan masyarakat melacak sebaran tanaman obat,” imbuhnya.
Melalui aplikasi tersebut, warga dapat mengetahui lokasi tanaman herbal tertentu seperti jahe merah atau serai, serta keluarga mana saja yang memilikinya.
Revitalisasi Lahan 1,7 Hektar Jadi Kebun Herbal
Program Desa TOGA di Gunaksa juga menyasar revitalisasi lahan desa. Sekitar 1,7 hektar lahan yang sebelumnya tidak produktif kini ditanami berbagai jenis tanaman obat seperti jahe merah, serai, lidah buaya, dan tanaman herbal lainnya.
Mahasiswa Unud bahkan telah menyusun master plan wisata edukasi TOGA yang diharapkan menjadi daya tarik baru bagi pengunjung sekaligus menambah potensi ekonomi desa.
Dukungan Unud dan Pemkab Klungkung
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Unud, Prof. Dr. Gusti Ngurah Alit Susanta Wirya, S.P., M.Agr, menegaskan Desa Gunaksa dipilih karena respons masyarakat yang positif dan telah lama menjalin kerjasama dengan Unud.
“Program ini tidak hanya menunjang kesehatan keluarga, tetapi juga berpotensi mendorong perekonomian warga. Kuncinya ada pada keberlanjutan. Kami sudah menitipkan program ini kepada desa dan tokoh adat, sekaligus siap mendukung dengan teknologi jika diperlukan,” kata Prof Alit Susanta.
Apresiasi juga datang dari Pemkab Klungkung. Wakil Bupati Klungkung, Tjokorda Gde Surya Putra, yang hadir mewakili Bupati I Made Satria, menilai pengembangan TOGA dengan dukungan teknologi sebagai sebuah terobosan.
“Ini langkah luar biasa. Banyak tanaman di pekarangan masyarakat yang manfaatnya belum diketahui. Dengan edukasi dan teknologi, TOGA bisa menjadi potensi besar bagi kesehatan dan ekonomi,” ujar Tjok Surya.
Ia menegaskan, kerjasama yang telah terjalin tidak boleh hanya sebatas dokumen, melainkan harus berkelanjutan.
“Saya ingin Desa Gunaksa benar-benar menjadi penghasil tanaman obat. Jika terus dikembangkan, Desa TOGA bisa menjadi daya tarik baru dan kebanggaan masyarakat Klungkung,” pungkasnya. (yan)








