
GIANYAR – Ida Bagus Putu Wesnawa yang sudah abhiseka dwijati dengan gelar Ida Pedanda Gede Sadhawa Jelantik Putra, berpulang pada Kamis (31/7/2025). Waktu walaka, yang bersangkutan adalah salah satu politisi sepuh PDI Perjuangan.
Sosok yang pernah menjadi salah satu tokoh penting dalam panggung politik Bali, menghembuskan nafas terakhir dalam usia 86 tahun. Kepergiannya membawa cerita panjang tentang perjalanan seorang anak marhaenis, politisi idealis, pendidik sejati, dan sulinggih yang teguh dalam dharma.
Suasana hening nampak di dalam Geriya Sedhawa, Desa Adat Tegal Tugu, Gianyar, Senin (11/8/2025) petang. Namun dibalik keheningan terdengar suara genta dari merajan Geriya. Rupanya pihak keluarga sedang mengadakan persembahyangan.
Ida Bagus Utara Narayana, salah seorang putra Ida Pedanda Gede Sadhawa Jelantik Putra, usai melaksanakan persembahyangan, menceritakan bagaimana sosok Ida Pedanda Ketika masih walaka dan aktif di dunia politik maupun dunia pendidikan.
Ida Bagus Utara Narayana mengawali cerita bagaimana darah politik mengalir kental di tubuh Ida Bagus Wesnawa. Ayahandanya adalah tokoh pendiri Partai Nasional Indonesia (PNI) di Gianyar.
“Keluarga kami sejak dulu terkenal marhaenis,” ungkap putra ketiga almarhum, Ida Bagus Utara Narayana, Senin (10/8/2025).
Diintimidasi Orda Baru
Karena itu, menurutnya melanjutkan perjuangan keluarga menjadi panggilan nurani. Awal kiprah Ida Bagus Wesnawa setelah pindah dari PNI, memilih bergabung di Partai Demokrasi Indonesia (PDI) sebelum menjadi Partai Demokrasi Indonesia PDI) Perjuangan.
Masa itu bukanlah masa yang mudah. Orde Baru memandang sinis gerakan marhaenis. Bahkan Ida Bagus Putu Wesnawa pun sempat menjalani kehidupan penuh intimidasi selaku kader PDIP ketika di awal berdiri. Kebetulan saat itu Ida bagus Utara Narayana melihat langsung bagaimana kekuasaan orda baru terus mengawasi pergerakan politik sang ayah.
“Geriya kami hampir setiap hari diawasi, seperti dimata-matai,” kenang Ida Bagus Utara Narayana.
Meski penuh intimidasi, Ida Bagus Wesnawa tetap teguh pada garis perjuangan.Sehingga yang bersangkutan di mata partai dikenal sebagai sosok kader yang loyal dan idealis.
Nama Ida Bagus Wesnawa semakin mencuat ketika PDIP lahir di bawah kepemimpinan Megawati Soekarnoputri. Hubungannya dengan Megawati terjalin begitu erat. Saat situasi deadlock pemilihan Ketua DPD PDIP Bali, Megawati bahkan menunjuk langsung Ida Bagus Wesnawa yang kala itu menjabat Sekretaris DPD PDIP Bali sebagai ketua.
Puncaknya, ia dipercaya menjadi Ketua DPRD Provinsi Bali selama dua periode (1999–2004 dan 2004–2009). Rekan seangkatan Gubernur Bali dua periode Dewa Made Beratha ini dikenal sebagai sosok yang tegas, berprinsip, namun tetap membumi.
“Beliau itu memang jadi politisi berbekal hati Nurani. Kalau sekarang dengan situasi seperti saat ini (pragmatis), sulit menjadi politisi hanya berbekal hati Nurani,” imbuh Ida Bagus Utara Narayana.
Kedekatan dengan Megawati begitu nyata hingga kabar wafatnya sempat diumumkan langsung oleh Ketua Umum PDIP itu di hadapan peserta Kongres PDIP di Bali, beberapa hari lalu.
“Awalnya saya sampaikan ini (berpulang) kepada Pak Bupati Gianyar, beliau lalu menginformasikan kepada Ibu Mega dan katanya diumumkan di depan kongres kalua PDIP kehilangan dua tokoh yakni Pak Kwik Kian Gie dan Pak Wes (Ida Bagus Putu Wesnawa),” ungkap Ida Bagus Utara Narayana.
Pendidik Sejati
Sebelum terjun ke politik, Ida Bagus Wesnawa adalah seorang pendidik. Ia memulai karir sebagai guru honorer di SMAN 1 Gianyar, lalu mendirikan Yayasan Pendidikan Dwijendra Gianyar, menjadi kepala sekolah SMP dan SMA Dwijendra.
“Kecintaannya terhadap pendidikan luar biasa, beliau punya idealisme sebagai pendidik sejati,” ujar Ida Bagus Utara Narayana.
Lulusan angkatan pertama Sarjana Muda Sastra Universitas Udayana ini juga dikenal visioner dalam membangun pendidikan berbasis nilai budaya dan moral.
Pada 2015, Ida Bagus Wesnawa di dwijati menjadi sulinggih dengan gelar Ida Pedanda Gede Sadhawa Jelantik Putra. Selama 11 tahun sebagai sulinggih, beliau mengabdikan diri untuk umat. Sejak usia 30 tahun, ia menjalani hidup vegetarian, menjaga kesehatan, dan selalu disiplin dalam laku spiritual.
Menurut Ida Bagus Utara Narayana, ada dua alasan kenapa orang tuanya itu ‘loncat’ dari politisi memilih jalan spiritual, pertama karena keinginan kuat yang bersangkutan untuk menyucikan diri dalam laku seorang pendeta.
“Kedua karena alasan melanjutkan tradisi keluarga, Dimana sebelumnya ada anggota keluarga menyandang sebagai Ida Pedanda (pendeta),” tandas Ida Bagus Utara Narayana.
Pelebon
Upacara pelebon almarhum diawali dengan melelet (nyiramin) pada rahina Purnama, Jumat (8/8/2025). Prosesi munggah pelebon digelar Sabtu (23/8/2025), dan puncaknya pada Kamis (28/8/2025) di areal Geriya Sedhawa. Karangan bunga merderet di depan Geriya Sedhawa pun Ketua Umum PDI Perjaungan Megawati Soekarnoputri dan Prananda Prabowo yang note bene anak Megawati ikut mengirim karangan bunga.
Banyak tokoh datang memberikan penghormatan terakhir. Diantaranya Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Djarot Saiful Hidayat, serta tokoh-tokoh partai di bali. Kehilangan ini dirasakan bukan hanya oleh keluarga besar Geriya Sedhawa, tetapi juga dunia politik, pendidikan, dan spiritual di Bali. (yan)








