
GIANYAR – Masyarakat diingatkan mewaspadai dan mengantisipasi lonjakan kasus demam berdarah dengue (DBD). Upaya antisipasi munculnya kasus DBD yang disebabkan nyamuk aedes aegypti ini salah satunya dengan menjaga kebersihan lingkungan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar, Ni Nyoman Ariyuni menyampaikan, perlunya ada kesadaran bersama memperhatikan kebersihan lingkungan. Sebab, DBD merupakan salah satu penyakit yang bisa menyebabkan kematian dan dapat terjadi karena lingkungan yang kurang bersih.
Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi munculnya DBD adalah gerakan 3M (menguras, menutup dan mendaur ulang) barang-barang yang dapat menampung air serta pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
Menurutnya, pencegahan munculnya DBD lebih efektif di tingkat rumah tangga. Jika setiap rumah memiliki satu orang yang rutin memeriksa dan membersihkan tempat perindukan jentik, maka potensi nyamuk pembawa virus bisa ditekan secara signifikan.
Meskipun di setiap banjar ada satu kader juru pemantau jentik (jumantik), namun Ariyuni menegaskan dirinya mendorong satu rumah tangga ada satu kader jumantik.
“Kami harapkan setiap rumah tangga memiliki kader jumantik, karena penanganan DBD yang terbaik adalah PSN,” kata Ni Nyoman Ariyuni,Kamis (12/6).
Ia wanti-wanti mengingatkan, perlu kesadaran untuk melahirkan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan. Bagi Ariyuni,masyarakat tidak hanya menjadi objek tetapi juga subjek dalam program kesehatan.
Dengan adanya kader jumantik di setiap rumah tangga, deteksi jentik nyamuk bisa dilakukan lebih cepat sebelum berkembang menjadi nyamuk dewasa yang menularkan penyakit.
“Ini jauh lebih efektif daripada hanya mengandalkan petugas kesehatan yang jumlahnya terbatas,”katanya.
Ia menambahkan kader jumantik keluarga bisa menjadi agen perubahan dan edukator dalam keluarganya sendiri. Satu keluarga satu kader jumantik merupakan bentuk strategi pencegahan berbasis masyarakat.
Ariyuni juga menyampaikan jumlah kasus DBD periode Januari-Mei 2025 mencapai 1.398 kasus, dengan rincian Januari sebanyak 189 kasus, Februari sebanyak 296, Maret sebanyak 304 kasus, April sebanyak 331 kasus dan Mei sebanyak 278.
Angka itu menurun jauh jika dibandingkan periode yang sama tahun 2024, dimana kasus per bulan Mei 2024 mencapai 1.600 kasus lebih. (yan)








