
DENPASAR – Angin Pantai Mertasari Sanur membawa satu pemandangan berbeda saat puluhan layangan menghiasi langit dalam Rare Angon International Kite Festival 2026. Di antara ribuan layangan yang beradu keindahan, sebuah layangan kreasi berukuran enam meter dengan lebar tiga meter menarik perhatian. Bentuknya menyerupai jersey Coca-Cola, hasil karya tangan seniman muda asal Tabanan.
Layangan tersebut bukan sekadar karya visual untuk memeriahkan festival. Di balik proses pembuatannya, ada cerita tentang keterlibatan anak muda Bali yang masih menjaga tradisi menerbangkan layangan sebagai bagian dari budaya masyarakat.

Seniman pembuatnya, I Komang Angga Mardiana, bersama sejumlah pemuda di desanya menyelesaikan layangan kreasi tersebut dalam waktu sekitar satu minggu. Bagi Angga, keterlibatan dalam Rare Angon Festival menjadi kesempatan untuk ikut menjaga tradisi yang sejak lama melekat dalam kehidupan masyarakat Bali.
“Ini untuk memeriahkan Rare Angon Festival sekaligus ikut menjaga budaya Bali. Layangan sudah menjadi bagian dari aktivitas dan budaya anak muda di sini,” ujar Angga saat ditemui, Minggu (26/7/2026).
Layangan kreasi tersebut menjadi salah satu bentuk kolaborasi antara kreativitas seniman lokal dengan dukungan dunia usaha. Coca-Cola Indonesia hadir dalam festival tersebut tidak hanya melalui tampilan layangan, tetapi juga memberikan dukungan selama kegiatan berlangsung.
Ketua Rare Angon Festival 2026, Gede Eka Suryawirawan mengatakan, kehadiran dukungan dari berbagai pihak menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan festival yang telah berkembang menjadi ruang pertemuan budaya.
Menurutnya, Rare Angon tidak hanya menghadirkan perlombaan layangan tradisional, tetapi juga memperkenalkan perkembangan seni layangan dunia. Tahun ini, festival diikuti 96 pelayang internasional dari 23 negara serta sekitar 1.000 pelayang dari berbagai daerah di Indonesia.
“Festival ini bukan hanya tentang kompetisi, tetapi bagaimana budaya layangan menjadi ruang bertemunya kreativitas, tradisi, dan budaya dari berbagai daerah maupun negara,” katanya.
Selain layangan tradisional Bali, pengunjung juga dapat melihat atraksi sport kite dan revolution kite yang memiliki kemampuan manuver tinggi. Jenis layangan tersebut dikendalikan menggunakan beberapa tali sehingga dapat bergerak lebih presisi di udara.
Berbagai kegiatan lain turut meramaikan festival, mulai dari workshop, lomba Baleganjur, lomba Pindekan, lomba Sunari, lomba Kober Layangan, hingga berbagai kategori perlombaan layangan tradisional. Suasana festival juga diperkaya dengan pertunjukan layangan malam, kuliner UMKM lokal, serta hiburan keluarga.
Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, saat membuka Rare Angon International Kite Festival 2026, Sabtu (25/7/2026), mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, festival ini menjadi bagian dari upaya menjaga seni dan budaya sekaligus memperkuat daya tarik wisata Kota Denpasar.
“Festival ini diharapkan terus berkembang menjadi daya tarik wisata unggulan yang mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara, khususnya ke kawasan Sanur,” ujar Arya Wibawa.
Melalui Rare Angon Festival, layangan tidak hanya kembali memenuhi langit Sanur, tetapi juga menjadi pengingat bahwa tradisi dapat terus hidup ketika mendapat ruang untuk berkembang dan berkolaborasi dengan generasi baru. (*)








