
KUTA – Masyarakat di sejumlah wilayah Bali belakangan ini merasakan penurunan suhu udara yang cukup signifikan, terutama pada malam hingga pagi hari. Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar menyatakan bahwa fenomena suhu dingin ini merupakan kondisi yang normal dan umum terjadi setiap tahun selama periode musim kemarau.
Prakirawan BBMKG Wilayah III, Wulan Wandarana menjelaskan, kondisi dingin ini dipicu oleh dua faktor utama, yaitu gerak semu tahunan matahari dan aktifnya aliran angin Monsun Australia. Saat ini, posisi matahari berada di Belahan Bumi Utara (BBU), yang mengakibatkan wilayah Indonesia di bagian selatan khatulistiwa, termasuk Bali dan sekitarnya, mengalami defisit atau kekurangan intensitas penyinaran matahari.
Di saat yang bersamaan, Benua Australia tengah memasuki periode musim dingin. Wilayah tersebut memiliki tekanan udara yang relatif tinggi, sehingga memicu pergerakan massa udara dingin dan kering dari Australia menuju Indonesia melewati wilayah Bali.
Selain faktor angin dari Australia, kondisi langit yang cenderung bersih tanpa awan (clear sky) turut mempercepat penurunan suhu di permukaan bumi. Minimnya tutupan awan menyebabkan radiasi panas matahari yang diterima bumi pada siang hari langsung dilepaskan kembali secara bebas ke atmosfer pada malam hari. Akibatnya, udara dekat permukaan terasa jauh lebih dingin menjelang malam hingga pagi hari.
Kata dia, berdasarkan data pengamatan meteorologi dalam 24 jam terakhir, suhu minimum tercatat mencapai 19 derajat Celcius di stasiun pengamatan wilayah Jembrana. Sementara itu, alat otomatis Automatic Weather Station (AWS) di kawasan dataran tinggi/pegunungan Bali sempat mencatat suhu yang menyentuh angka 15 derajat Celcius, meskipun angka pada alat otomatis ini terus berubah secara fluktuatif mengikuti kondisi real-time.
“Fenomena suhu dingin ini merupakan fenomena yang normal terjadi berulang setiap tahunnya. Terutama pada periode bulan Juni, Juli, Agustus. Kondisi ini dapat terjadi di sebagian besar Bali. Topografi yang berbeda, dapat menyebabkan suhu lebih dingin terjadi di dataran lebih tinggi seperti pegunungan,” sebutnya sembari membenarkan bahwa suhu yang lebih dingin di malam hari ini dapat berlangsung hingga Agustus mendatang. (adi)








