
KLUNGKUNG – Wakil Bupati (Wabup) Klungkung Tjokorda Gde Surya Putra tidak mau kecolongan masuknya sampah non-organik yang berpotensi mencemari lingkungan di eks galian C.
Wakil Bupati Klungkung Tjokorda Gde Surya Putra turun langsung ke lapangan untuk memastikan proses berjalan sesuai ketentuan dan tidak terjadi kecolongan dalam pengelolaan sampah. Dalam peninjauan yang dilakukan Rabu (15/4/2026), Wabup yang akrab disapa Tjok Surya itu menegaskan pentingnya disiplin petugas dalam melakukan pengawasan terhadap setiap kendaraan pengangkut bahan kompos yang masuk ke lokasi.
Ia mengingatkan agar seluruh material yang diterima benar-benar berupa sampah organik yang telah melalui proses pencacahan, sesuai komitmen dengan Pemerintah Provinsi Bali.
“Dari hasil komunikasi dan pantauan kami di lapangan, sampah yang dibawa memang benar sampah organik yang sudah dicacah, sesuai dengan kesepakatan dengan pihak Provinsi Bali,” ujar Tjok Surya saat berada di lokasi, didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Klungkung Dewa Komang Aswin.
Di lokasi eks galian tersebut, terlihat sejumlah truk silih berganti datang membawa material organik yang telah dicacah. Bahan kompos itu kemudian diturunkan ke dalam lubang penampungan yang sebelumnya telah disiapkan menggunakan alat berat. Setelah lubang terisi penuh, material tersebut selanjutnya akan ditimbun dengan tanah sebagai bagian dari proses pengolahan.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya Pemprov Bali dalam menata pengelolaan sampah berbasis lingkungan sekaligus memanfaatkan lahan eks galian agar lebih produktif. Ke depan, kawasan tersebut juga direncanakan akan ditanami berbagai jenis tumbuhan guna menjaga keseimbangan ekosistem, khususnya di sekitar kawasan embung yang merupakan kawasan peyangga Pusat Kebudayaan Bali (PKB).
Meski demikian, Tjok Surya menegaskan pengawasan harus dilakukan secara ketat dan berlapis. Ia secara khusus mewanti-wanti petugas di lapangan agar tidak lengah dalam melakukan pemeriksaan, mengingat potensi tercampurnya sampah non-organik seperti plastik masih sangat mungkin terjadi.
“Petugas wajib cek detail, jangan sampai kecolongan ada sampah non-organik yang dibawa. Ini area penyangga, kita harus jaga kualitas lingkungannya,” tegasnya.
Menurutnya, keberhasilan program ini sangat bergantung pada konsistensi pengawasan di lapangan. Jika tidak dijaga dengan baik, maka tujuan utama menjadikan kawasan tersebut sebagai area ramah lingkungan justru bisa berbalik menjadi sumber permasalahan baru. (yan)








