
KLUNGKUNG – Perayaan Tumpek Uye yang dipusatkan Pemerintah Provinsi Bali di Pura Watu Klotok, Kabupaten Klungkung, Sabtu (7/2/2026), tidak sekadar menjadi ritual keagamaan, tetapi juga momentum membangun kesadaran kosmik manusia untuk menghargai seluruh kehidupan di alam semesta.
Melalui perayaan ini, umat diingatkan bahwa binatang bukan hanya makhluk pendamping kehidupan manusia, melainkan ciptaan Tuhan yang patut disayangi, dihargai, dan disyukuri keberadaannya sebagaimana manusia menghargai sesamanya. Nilai tersebut menjadi pesan utama Tumpek Uye yang sarat makna spiritual sekaligus ekologis.
Suasana sakral terasa di pesisir Pantai Watu Klotok saat ratusan umat mengikuti persembahyangan bersama yang dirangkaikan dengan pelepasan satwa seperti burung, ikan, dan tukik. Kegiatan ini menjadi simbol penghormatan terhadap kehidupan sekaligus upaya menjaga keseimbangan alam atau Segara Kerthi, sejalan dengan nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi.
Dalam filosofi Hindu Bali, seluruh fauna diyakini memiliki unsur ketuhanan sehingga memperlakukan binatang dengan kasih sayang dipandang sebagai cerminan sifat manusia yang mulia. Tumpek Uye mengajarkan bahwa meyayangi dan melindungi hewan bukan sekadar tindakan sosial, tetapi juga bentuk kesadaran spiritual bahwa manusia hidup berdampingan dengan makhluk lain dalam satu tatanan kosmik.
Nilai ini diwariskan secara turun-temurun sebagai pengingat agar manusia menjaga keseimbangan hubungan dengan alam. Kepunahan dan kelangkaan satwa menjadi refleksi penting bahwa hubungan tersebut kerap mengalami ketidakseimbangan, sehingga Tumpek Uye hadir sebagai momentum untuk kembali menata hubungan manusia dengan alam secara bijak dan bertanggung jawab.
Dalam tradisi Bali, manusia memang diberikan kuasa untuk memanfaatkan hewan, baik untuk konsumsi maupun sarana upacara suci. Namun, ajaran tersebut selalu diiringi pesan etis dan spiritual, yakni mempermaklumkan kepada Sang Pencipta sebelum penyembelihan serta mempersembahkan terlebih dahulu hasilnya sebagai ungkapan rasa syukur.
Perayaan Tumpek Uye tahun ini turut dihadiri Bupati Klungkung I Made Satria, Ketua TP PKK Klungkung Ny. Eva Satria, Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra, Sekda Klungkung Anak Agung Gede Lesmana, serta jajaran OPD Pemprov Bali dan Pemkab Klungkung. Kegiatan dilaksanakan sesuai Instruksi Gubernur Bali Nomor 3 Tahun 2023 tentang Perayaan Rahina Tumpek Uye dengan Upacara Segara Kerthi.
Bupati Satria berharap perayaan Tumpek Uye tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi mampu menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat untuk selalu bersyukur atas peran binatang dalam kehidupan manusia.
“Semoga melalui penyelenggaraan kegiatan ini dapat mengingatkan umat sedharma untuk selalu bersyukur dan berterima kasih kepada binatang karena telah membantu dalam kehidupan manusia,” ujarnya.
Di tengah tantangan modernisasi dan perubahan lingkungan, pesan Tumpek Uye dinilai semakin relevan. Perayaan ini mengajarkan bahwa menjaga alam dapat dimulai dari kesadaran sederhana untuk menghormati kehidupan, karena dari sikap menghargai hewan, manusia sejatinya belajar menghargai kehidupan itu sendiri. (yan)








