
KLUNGKUNG – Musibah tanah longsor kembali melanda wilayah Kabupaten Klungkung. Kali ini, longsoran batu dan tanah menghantam kawasan suci Pura Manik Tirta yang berlokasi di Desa Adat Timuhun, Kecamatan Banjarangkan, menyebabkan sejumlah pelinggih mengalami kerusakan cukup parah.
Peristiwa tersebut terjadi pada Senin (19/1/2026) dan pertama kali diketahui oleh Jro Mangku Manik Tirta saat hendak melaksanakan aktivitas rutin di pura.
Setibanya di lokasi sekitar pukul 10.00 Wita, Jro Mangku dikejutkan dengan kondisi pelinggih yang telah rusak akibat tertimpa material longsoran dari tebing di sebelah timur pura.
Beruntung, dalam kejadian ini tidak terdapat korban jiwa. Namun demikian, kerugian material diperkirakan tidak sedikit mengingat sejumlah bangunan suci yang terdampak merupakan bagian penting dari kawasan pura.
Perbekel Desa Timuhun, I Putu Arsana, saat dikonfirmasi membenarkan kejadian tersebut. Ia menjelaskan, setelah melihat kondisi pura, Jro Mangku Manik Tirta yang juga selaku pemangku pura segera melaporkan musibah tersebut kepada pihak desa adat.
“Sekitar pukul 10.00 Wita, Jro Mangku datang ke pura dan melihat beberapa pelinggih sudah rusak akibat tertimpa longsoran batu dan tanah dari tebing sebelah timur pura,” jelas Putu Arsana.
Menyadari situasi yang cukup serius, laporan tersebut langsung diteruskan kepada Bendesa Adat Timuhun, I Wayan Widana. Saat itu, Perbekel bersama Bendesa Adat sedang berada di lapangan melakukan inspeksi bangunan vila.
“Kami menerima informasi bahwa Pura Manik Tirta tertimpa tanah longsor. Setelah itu, kami langsung menuju lokasi untuk memastikan kondisi di lapangan,” ujar Putu Arsana.
Setibanya di lokasi, Perbekel Desa Timuhun dan Bendesa Adat Timuhun melakukan pengecekan serta pendataan awal dengan didampingi Bhabinkamtibmas, Babinsa, dan unsur Pecalang Desa Adat Timuhun.
Dari hasil pendataan sementara, diketahui beberapa pelinggih mengalami kerusakan akibat tertimpa material longsor. Pelinggih yang terdampak di antaranya Pelinggih Sapta Petala, Pelinggih Ngerurah, serta Taman Beji, yang merupakan bagian vital dalam rangkaian kawasan suci Pura Manik Tirta.
“Untuk sementara pelinggih yang terdata rusak adalah Sapta Petala, Ngerurah, dan Taman Beji. Untuk total kerugian material masih dalam proses pendataan oleh pihak pengempon pura,” ungkapnya.
Putu Arsana menambahkan, longsor tersebut diduga kuat dipicu oleh cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi yang melanda wilayah Klungkung dan sekitarnya dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut menyebabkan struktur tanah di tebing menjadi labil hingga akhirnya runtuh.
Tebing di sebelah timur Pura Manik Tirta sendiri memiliki ketinggian puluhan meter dan dinilai cukup rawan, terutama saat hujan lebat berkepanjangan. Oleh karena itu, pihak desa bersama desa adat berencana segera melakukan koordinasi lanjutan untuk penanganan pasca longsor.
“Kami akan berkoordinasi dengan pihak terkait, termasuk pengempon pura dan instansi teknis, untuk penanganan pasca kejadian sekaligus upaya mitigasi agar peristiwa serupa tidak terulang,” pungkas Putu Arsana. (yan)








