
KLUNGKUNG – Perubahan cuaca ekstrem yang kian sulit diprediksi menjadi alarm bagi seluruh masyarakat Bali untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Provinsi Bali, I Gede Agung Teja Busana Yadnya bersama Kepala BPBD Kabupaten Klungkung Putu Widiada, menegaskan pentingnya langkah mitigasi bencana di tengah fenomena cuaca tidak menentu yang bahkan memicu banjir besar di luar musim hujan.
Cuaca di Bali dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan gejala yang tidak biasa. Hujan deras yang mengguyur berturut-turut selama tiga hari menyebabkan banjir di sejumlah kabupaten, termasuk Klungkung.
Ironisnya, curah hujan ekstrem itu terjadi saat seharusnya Bali belum memasuki musim hujan. Kondisi tersebut menjadi disoroti I Gede Agung Teja Busana Yadnya, saat menyerahkan bantuan kepada korban bencana di Kabupaten Klungkung dan Bangli, Kamis (9/10/2025), di ruang rapat Praja Mandala, Kantor Bupati Klungkung.
Ia menegaskan, fenomena ini menjadi peringatan agar semua pihak memperkuat langkah mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi perubahan iklim yang tidak bisa diprediksi.
“Curah hujannya rekor baru, sangat tinggi. Hampir tiga kali lipat lebih ekstrim dari biasanya, padahal belum musim hujan. Oktober ini baru masuk musim hujan, karena itu kita semua harus melakukan kesiapsiagaan,” ujar Agung Teja.
Ia mencontohkan, mitigasi tidak selalu identik dengan proyek besar. Upaya sederhana justru bisa berdampak besar dalam mengurangi risiko bencana. Untuk jangka pendek, masyarakat diminta disiplin mengelola sampah berbasis sumber dan tidak membuang sampah sembarangan ke sungai, got, maupun drainase.
“Jangan anggap remeh. Tumpukan sampah di selokan bisa menjadi pemicu utama banjir saat hujan ekstrem,” tegasnya.
Selain mitigasi jangka pendek, BPBD juga menekankan pentingnya strategi jangka menengah dan panjang. Upaya tersebut meliputi peningkatan area tutupan lahan dengan penanaman kembali di kawasan kritis serta melakukan asesmen lokasi-lokasi yang memerlukan sistem peringatan dini banjir.
“Kalau kita bisa mempersiapkan dengan baik, meski curah hujan tinggi, risiko bencana bisa dikurangi secara signifikan,” imbuhnya.
Ia menegaskan, mitigasi bukan hanya tugas BPBD, tetapi tanggung jawab bersama. Sebab kata Agung Teja, kalau semua pihak bergerak bersama, dampak bencana bisa ditekan sekecil mungkin.
Serahkan Bantuan
Dalam kesempatan tersebut, BPBD Provinsi Bali juga menyerahkan bantuan berupa uang senilai lebih dari Rp533 juta kepada masyarakat terdampak bencana di Kabupaten Klungkung. Bantuan disalurkan kepada 22 warga pemilik rumah rusak sedang dan berat, pengelola empat tempat ibadah, serta sejumlah pelaku usaha dan nelayan yang turut terdampak.
Agung Teja menegaskan bantuan tersebut bersumber dari sumbangan masyarakat luas yang dihimpun oleh BPBD Provinsi Bali sebagai wujud solidaritas kemanusiaan. Ia juga memberikan apresiasi tinggi kepada BPBD Kabupaten Klungkung yang dinilai paling cepat dan tanggap dalam penanganan bencana di daerahnya.
“BPBD Klungkung ini luar biasa. Mereka sigap turun ke lapangan, cepat melakukan pendataan, dan menyampaikan laporan dengan akurat. Tanpa data yang lengkap, kami tidak bisa menyalurkan bantuan secara tepat sasaran,” puji Agung Teja.
Ucapan Terima Kasih
Sementara itu, Bupati Klungkung I Made Satria yang turut hadir dalam acara tersebut bersama Sekda Klungkung Anak Agung Gde Lesmana menyampaikan terima kasih atas perhatian dan bantuan yang diberikan Pemprov Bali.
“Bantuan ini bukti nyata kepedulian Pemerintah Provinsi Bali kepada masyarakat Klungkung yang tertimpa musibah. Kami berharap kerjasama ini terus berlanjut, baik dalam penanganan darurat maupun dalam upaya mitigasi jangka panjang,” ujar Bupati Satria.
Ia menambahkan, pemerintah daerah terus berupaya memperkuat kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan dan sistem drainase agar tidak menjadi penyebab bencana sekunder. (yan)








