
KLUNGKUNG – Sungai Candigara di Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung, kembali jadi perhatian serius usai banjir bandang beberapa hari lalu yang memaksa ratusan warga Banjar Pancingan mengungsi ke bale banjar.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klungkung melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) bergerak cepat berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida untuk mencari solusi permanen.
Kepala Dinas PUPR Klungkung, Made Jati Laksana, mengungkapkan pihaknya sudah melayangkan surat resmi ke BWS Bali Penida. Dalam balasan yang diterima, BWS berkomitmen segera menurunkan alat berat berupa excavator amphibious guna melakukan pengerukan alur sungai yang mengalami pendangkalan.
“Pemkab Klungkung tidak memiliki alat sejenis itu, hanya BWS Bali Penida yang punya. Jadi kami sudah bersurat, dan mereka sudah menjanjikan akan segera menurunkan excavator amphibious,” ujar Jati Laksana, Selasa (16/9/2025).
Sungai Rawan Sedimentasi
Menurut Jati Laksana, karakteristik Sungai Candigara memang sangat rawan sedimentasi. Muaranya langsung ke laut sehingga saat terjadi pasang, aliran sungai menjadi terhambat. Kondisi ini diperparah oleh lumpur dari hulu yang terbawa arus dan cepat menumpuk di dasar sungai.
“Kalau pas pasang, aliran sungai jadi terhambat. Lumpur yang terbawa arus inilah yang menumpuk dan menyebabkan pendangkalan. Banjir bandang baru-baru ini juga terjadi saat air laut sedang pasang,” jelasnya.
Catatan PUPR menunjukkan, pengerukan terakhir Sungai Candigara dilakukan pada tahun 2021. Ironisnya, di tahun yang sama banjir bandang juga pernah melanda Kusamba. Fakta ini menegaskan bahwa tanpa penanganan rutin, Sungai Candigara akan selalu berisiko meluap saat musim hujan.
Faktor Alam dan Ulah Manusia
Selain faktor alam, ulah manusia juga memperparah kondisi sungai. Masih banyak warga yang membuang sampah ke aliran Sungai Candigara, membuat proses sedimentasi semakin cepat.
“Kami minta semua pihak agar ikut menjaga kebersihan dan tidak lagi membuang sampah ke sungai. Pengelolaan sampah harus dilakukan secara bijaksana. Kalau sampah menumpuk di alur sungai, maka potensi banjir akan semakin besar,” tegas Jati Laksana.
Warga Masih Trauma Banjir Bandang
Banjir bandang yang menerjang Kusamba beberapa hari lalu masih menyisakan trauma bagi warga. Ratusan orang harus mengungsi ke bale banjar setelah rumah mereka terendam lumpur dan air bah. Meski kini air sudah surut dan sebagian lumpur mulai dibersihkan, hujan yang turun sesekali membuat warga kembali was-was.
Masyarakat berharap agar pengerukan alur sungai segera dilakukan. Namun mereka menilai langkah itu hanya solusi jangka pendek. Warga mendesak adanya sistem pengendalian banjir yang lebih menyeluruh, mulai dari normalisasi sungai hingga penguatan tanggul di titik rawan. (yan)








