
DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster menyatakan sikap tegas menolak usulan pendirian kasino di Pulau Dewata. Penolakan itu disampaikan saat menerima kunjungan kerja Komisi VII DPR RI di Ruang Rapat Kerta Sabha, Rumah Jabatan Gubernur Bali, Denpasar, Rabu (2/7/2025).
Dalam pertemuan tersebut, anggota Komisi VII DPR RI menanyakan tanggapan Gubernur Koster terkait wacana pembangunan kasino di Bali. Mereka menilai keberadaan kasino bisa menjadi sumber peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan devisa negara yang signifikan, tanpa berdampak buruk bagi masyarakat kelas bawah.
“Di negara-negara ASEAN yang memiliki kasino, pendapatannya luar biasa. Pengunjungnya orang kaya yang mencari hiburan, bukan masyarakat kecil yang berjudi online. Mereka bisa menghabiskan puluhan miliar hanya untuk bersenang-senang di kasino. Ini bisa meningkatkan pendapatan,” ujar salah satu anggota Komisi VII.
Menanggapi hal tersebut, Gubernur Koster mengakui bahwa wacana pendirian kasino memang sedang menjadi perbincangan di masyarakat, bahkan sempat mencuat di DPRD Bali. Namun, ia menegaskan bahwa konsep pariwisata Bali adalah pariwisata berbasis budaya, bukan hiburan kasino.
“Pariwisata Bali dibangun berdasarkan nilai-nilai budaya, tradisi, dan kearifan lokal. Orang datang ke Bali karena mereka mencintai budaya Bali,” tegasnya.
Gubernur Koster mengakui bahwa secara hitungan jangka pendek, kasino memang bisa memberikan lonjakan pendapatan. Namun, ia menekankan bahwa keberadaan kasino, sekhusus apapun lokasinya atau seketat apapun masuknya, tetap akan mencoreng citra pariwisata Bali yang selama ini dikenal sebagai destinasi budaya.
“Sekalipun tempatnya khusus, pengunjungnya dibatasi dengan paspor, tetap saja akan mengubah citra Bali. Budaya kita akan ternoda. Kami sangat khawatir, kita mendapat pendapatan tinggi sekarang, tetapi kehilangan masa depan Bali sebagai pusat pariwisata budaya,” ujarnya, disambut tepuk tangan hadirin.
Ia menambahkan, kekuatan utama Bali terletak pada budayanya yang telah menjadi daya tarik utama bagi wisatawan dunia. Jika Kasino ditujui brending Bali sebagai wisata budaya bisa ternoga karena masuknya budaya kasino, maka pariwisata Bali bisa kehilangan jati dirinya.
“Kita mungkin bisa dapat Rp100 triliun dari kasino, tetapi bisa kehilangan 6,4 juta wisatawan yang cinta budaya Bali. Kalau itu terjadi, bukan hanya kehilangan budaya, tapi juga investasi dan ekosistem yang sudah terbangun,” katanya.
Koster menegaskan, banyak investor tertarik menanamkan modal di Bali karena keberadaan budaya yang kuat, bukan semata hiburan fasilitas modern.
“Ekosistem pariwisata Bali hidup karena akar budayanya kuat. Tradisi, adat, dan kearifan lokal itulah yang menjadi denyut nadi Bali,” tandasnya.
Ia juga menyentil isu yang sering diangkat di media sosial mengenai berbagai masalah Bali seperti kemacetan, sampah, hingga krisis air. Namun faktanya, jumlah wisatawan asing yang datang ke Bali pada tahun 2025 justru mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Ini membuktikan bahwa budaya Bali masih menjadi magnet utama. Karena itu, saya tegaskan, sampai saat ini saya tidak menyetujui adanya kasino di Bali,” pungkas Koster. (jay/jon)








