
DENPASAR – Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali kembali melahirkan lulusan melalui jalur tugas akhir nonskripsi. Tiga mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah (PBID) dinyatakan lulus setelah mempertahankan proyek inovatif berupa karya sastra dan buku jurnalisme sastrawi dalam ujian tugas akhir yang digelar Rabu (1/7/2026).
Menariknya, selain diuji dosen internal, karya ketiga mahasiswa tersebut juga dinilai langsung oleh penguji eksternal dari kalangan sastrawan dan wartawan, sebagai bentuk penilaian terhadap kualitas karya yang dihasilkan.
Ketiga mahasiswa tersebut yakni Ida Ayu Gede Agung Putri Wardani dan I Made Indra Sanjaya dari Konsentrasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Bali, serta Ni Putu Vira Asri Agustini dari Konsentrasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Putri Wardani melahirkan buku kumpulan puisi Bali modern berjudul Lawate Surup Ring Bale Gede: Pupulan Puisi Bali Anyar, Indra Sanjaya menghasilkan Geguritan Dharma Pawayangan, sedangkan Vira menerbitkan buku jurnalisme sastrawi Sejuta Rasa Selaksa Cerita: Sehimpunan Kisah tentang Kuliner Khas Bali. Ketiga buku tersebut telah diterbitkan oleh penerbit nasional.
Ketua Prodi PBID FBS UPMI Bali, Gede Sidi Artajaya, menjelaskan jalur tugas akhir nonskripsi mulai diterapkan sejak 2025 sebagai implementasi capaian pembelajaran lulusan yang memberi ruang bagi mahasiswa menghasilkan karya nyata.
“Tiga mahasiswa ini merupakan angkatan kedua yang memilih jalur proyek inovatif karya sastra. Tahun lalu ada dua mahasiswa yang menempuh jalur serupa,” ujarnya.
Selain menghasilkan buku, mahasiswa juga diwajibkan menyusun laporan tugas akhir yang memuat konsep penciptaan, proses kreatif, deskripsi karya, hingga relevansinya terhadap dunia pendidikan sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik.
Menurut Sidi, mahasiswa yang memilih jalur tersebut memang memiliki rekam jejak di bidang kepenulisan. Putri Wardani aktif menulis puisi Bali di berbagai media massa, Indra Sanjaya dikenal sebagai dalang muda yang akrab dengan sastra tradisional, sementara Vira merupakan penulis di media daring.
Putri Wardani mengakui jalur nonskripsi bukan berarti lebih ringan dibanding skripsi. Justru, menurutnya, tantangan terbesar adalah menghasilkan karya yang benar-benar berkualitas.
“Ini bukan pilihan yang lebih mudah, tetapi menjadi tantangan untuk membuktikan kemampuan berkarya secara kreatif,” katanya.
Hal senada disampaikan Indra Sanjaya. Ia mengembangkan catatan mengenai dunia pewayangan menjadi sebuah geguritan agar lebih mudah dipahami dan diwariskan kepada masyarakat luas.
Sementara itu, Vira menghimpun dan mengembangkan kisah-kisah kuliner Bali yang sebelumnya dimuat di media menjadi sebuah buku jurnalisme sastrawi. Ia berharap pembaca tidak hanya mengenal cita rasa kuliner Bali, tetapi juga memahami cerita dan nilai budaya di baliknya.
Penguji eksternal, sastrawan sekaligus wartawan I Putu Supartika dan I Made Adnyana Ole, memberikan apresiasi terhadap inovasi yang dilakukan mahasiswa UPMI Bali. Menurut mereka, model tugas akhir berbasis karya layak dikembangkan di berbagai perguruan tinggi karena mampu melahirkan lulusan yang produktif berkarya.
“Lulusan UPMI nantinya bukan hanya menjadi guru bahasa, tetapi juga penulis dan pengarang yang mampu menghasilkan karya,” ujar Ole.
Sastrawan Bali Nyoman Suprapta turut mengapresiasi langkah tersebut. Menurutnya, selama ini mahasiswa lebih banyak meneliti karya sastra yang telah ada, sedangkan kini mulai lahir karya-karya baru dari mahasiswa sendiri.
“Saya bangga karena mahasiswa kini tidak hanya mengkaji karya sastra, tetapi juga menciptakan karya sastra. Ini harus terus dikembangkan,” katanya.
Dekan FBS UPMI Bali, I Made Sujaya, menegaskan proyek inovatif karya sastra merupakan implementasi Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025 tentang Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi sekaligus penerapan kurikulum Outcome Based Education (OBE) dan konsep kampus berdampak.
“Kami ingin melahirkan lulusan yang tidak hanya menjadi calon pendidik yang kreatif, tetapi juga kreator yang memiliki jiwa pendidik,” tegasnya. (surr)








