
Oleh: Sumarya
DENPASAR– Akhirnya, karya agung itu dituntaskan hari ini. Sebuah perjalanan panjang yang ditandai dengan upaya kolektif, spiritualitas mendalam, dan tentu saja pengabdian tulus kepada para leluhur.
Mulai esok, suasana berdesakan menuju natar utama linggih para leluhur akan menjadi bagian dari sejarah. Masa ketika denting genta, patet bilah-bilah gamelan, hingga rengek balita menyatu dalam ruang yang sama menjadi harmoni khas yang hanya lahir dalam gelaran yadnya agung.
Namun seperti halnya setiap pagelaran besar, selalu ada yang tertinggal dalam ingatan, kenangan. Bagi mereka yang terlibat, kenangan itu bukan sekadar catatan waktu, melainkan jejak emosional yang dalam haru bercampur sesal, kasih bertemu kemarahan.
Apalagi bagi mereka yang mungkin tanpa sadar menjadikan panggung yadnya sebagai ajang “aku yang paling”. Sebuah paradoks yang kerap mewarnai perhelatan kolosal, saat ambisi pribadi melampaui niat suci pengabdian.
Meski demikian, saya pribadi ingin menyampaikan rasa terima kasih mendalam. Tahapan yadnya telah berlangsung dengan baik. Lebih dari itu, saya merasa bangga, parhyangan linggih Bhatara Mpu Gana kini telah menjadi magnet spiritual, menyentuh hingga ke pelosok desa dan kota, dan terutama ke relung hati warga Pasek.
Di balik kemegahannya, berdiri nilai yang lebih agung, harga diri, komitmen, dan kemandirian.Tapi di sinilah pertanyaan penting harus diajukan, Apa selanjutnya?
Apakah bangunan parhyangan yang megah dan bernafas futuristik ini hanya akan menjadi simbol kosong yang statis? Ataukah bisa kita optimalkan menjadi pusat pemberdayaan bukan hanya spiritual, tetapi juga sosial dan ekonomi khususnya bagi trah Gnijaya Wangsa yang belum sepenuhnya tersentuh keberuntungan?
Optimalisasi itu tak bisa ditunda. Kita perlu merancang langkah-langkah konkret, agar parhyangan bukan hanya menjadi tujuan ziarah spiritual, melainkan juga sarana membumikan wara lugraha para leluhur.
Menjadikannya tempat di mana nilai-nilai warisan leluhur menjadi inspirasi hidup sehari-hari. Bukan hanya di altar, tetapi di ladang, di pasar, di ruang kelas, bahkan di ruang kerja profesional. Sebab, leluhur kita tak hanya ingin disembah dalam senyapnya dupa dan kidung suci.
Mereka ingin hidup dalam tindakan nyata dalam solidaritas sosial, kemandirian ekonomi, dan kontribusi bagi Bali yang Santhi dan Jagaddhita. Mari, kita tidak berhenti pada kemegahan. Mari kita hidupkan parhyangan itu dengan semangat yang membumi menghidupkan nilai-nilai warisan, untuk masa depan yang lebih adil dan sejahtera bagi seluruh warga Pasek, dan Bali secara keseluruhan.(*)





