
KLUNGKUNG – Sebanyak 28 warga Dusun Sental Kangin, Desa Ped, Kecamatan Nusa Penida yang diungsikan ke Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Banjarangkan, mengungkapkan rasa ketidaknyamanan mereka dan mulai merasa tidak betah. Sebagian besar mengaku khawatir dengan ternak dan barang dagangan mereka yang ditinggalkan di Nusa Penida.
Pengungsi yang termasuk dalam kelompok kanorayang (dikucilkan adat) ini dipindahkan ke tempat pengungsian oleh aparat demi keselamatan sejak Senin (31/3/2025), setelah terjadi ketegangan dengan warga setempat pada Minggu (30/3/2025) malam.
Pikirkan Ternak dan Dagangan
Salah satu pengungsi, Ni Wayan Rati, mengungkapkan kekhawatirannya yang membuatnya sulit tidur. Ia merasa tertekan memikirkan barang dagangannya yang ditinggalkan di Pasar Mentigi. Rati, yang sehari-harinya berjualan buah-buahan di pasar tersebut, khawatir dagangannya rusak. Selain itu, ia juga khawatir dengan kondisi mertuanya, Wayan Tegeg, yang sudah lanjut usia dan ikut mengungsi bersamanya.
“Saya tidak bisa tidur nyenyak. Kepikiran terus dagangan saya di Pasar Mentigi. Pasti barang dagangan saya rusak. Belum lagi mikirin mertua yang ikut mengungsi,” ujar Ni Wayan Rati, Rabu (2/4/2025), saat ditemui di SKB.
Trauma Anak-Anak dan Kondisi Psikis Pengungsi
Hal serupa dirasakan oleh Ni Komang Ayu Ananti yang merasa psikisnya tertekan, apalagi peristiwa ini terjadi bertepatan dengan perayaan Ngembak Nyepi. Ia juga mengungkapkan bahwa banyak anak-anak yang mengalami trauma, bahkan ada yang sampai menjerit ketakutan saat kejadian berlangsung.
“Sangat memprihatinkan melihat anak-anak yang ketakutan, apalagi setiap kali mereka melihat aparat, mereka terlihat sangat takut. Mungkin mereka masih trauma,” kata Wayan Widi, salah satu pengungsi lainnya.
Widi, yang berprofesi sebagai tour leader, juga mengaku khawatir dengan barang-barang dan kendaraan yang tertinggal di kampung halaman, termasuk kendaraan yang selama ini menghidupi keluarganya.
Ternak Dititipkan di Desa Tetangga
Pengungsi lainnya, Ketut Paing, juga merasa cemas dengan kondisi ternaknya yang ditinggalkan di Nusa Penida. Sebagai seorang petani, Ketut menitipkan sapinya di rumah keluarga yang berada di desa tetangga.
“Saya ada satu ekor sapi, sementara dititipkan ke keluarga di desa tetangga,” ungkap Ketut Paing.
Keinginan Kembali ke Kampung Halaman
Meski kebutuhan makan para pengungsi telah terpenuhi, banyak dari mereka yang merasa tidak nyaman di lokasi pengungsian dan menginginkan untuk kembali ke kampung halaman mereka di Dusun Sental Kangin. Mereka berharap bisa hidup damai seperti sebelumnya bersama warga setempat.
Sengketa Tanah Negara yang Memicu Ketegangan
Peristiwa ini berawal dari sengketa tanah negara seluas 7 are antara kelompok kanorayang dengan pihak banjar adat. Tanah tersebut sebelumnya digunakan untuk membangun restoran yang dikelola oleh kelompok kanorayang. Namun, berdasarkan hasil pertemuan pihak banjar adat, Banjar Adat Sental Kangin mengajukan permohonan kepada negara untuk menjadikan tanah itu sebagai lahan pelaba pura.
Proses permohonan sertifikasi tanah tersebut kemudian digugat oleh kelompok kanorayang, yang akhirnya membawa kasus ini ke pengadilan.
Akibat sengketa ini, keputusan adat mengakibatkan delapan kepala keluarga dari kelompok kanorayang diungsikan, yang pada akhirnya memicu ketegangan sosial di masyarakat.
Pihak pengungsi berharap ada solusi yang bisa membawa kedamaian bagi seluruh warga di Dusun Sental Kangin agar kehidupan mereka bisa kembali normal. (yan)








