
DENPASAR – Kegagalan membawa pulang medali dari ajang Asian Games 2023 Hangzhou, China untuk tim bulutangkis Indonesia memunculkan keprihatinan tersendiri, termasuk salah seorang anggota Dewan pengawas (Dewas) PP PBSI, Wayan Winurjaya.
Pria yang juga Ketua Umum Pengprov PBSI Bali itu meminta PBSI Pusat segera melakukan evaluasi dan melakukan pembenhan. Mulai dari rekruimen skuad pelatnas, sistem pembinaan pebulutangkis dari pusat hingga daerah, serta penerapan batasan umur bagi atlet usia dewasa di event nasional, termasuk PON.
“Rekrutmen pelatnas beberapa tahun lalu terjadi pencurian umur,pebulutangkis putri agar masuk pelatnas sehingga akibatnya prestasi tim bulutangkis Indonesia sekarang ini turun,” jelas Winurjaya saat dimintai penilaian tersebut, Senin (9/10/2023).
Tak hanya itu saja, soal pembatasan umur even sirkuit nasional (sirnas) dan Pekan Olahraga Nasional (PON) yang dibatasi maksimal usia 21 tahun, diakui Winurjaya mengakibatkan pebulutangkis usia dewasa berhenti sebagai atlet dan beralih profesi menjadi pelatih bahkan sampai keluar negeri.
“Pengelolaan kepelatihan khususnya soal mental atlet perlu diperkuat dengan melibatkan TNI seperti saat Ketum PP PBSI dipegang Bapak Joko Santoso, seluruh pemain dikarantina di Akmil Magelang dengan program fisik, mental terpadu sehingga siap tempur saat laga,” tambah Winurjaya.
Dengan demikian versinya, perlu adanya pembinaan pebulutangkis secara terpadu mulai dari pusat sampai daerah melalui program Pelatnas, Pelatwil, Pelatprov, dan Pelatkab. Jenjang pembinaan itu, lanjut Winurjaya, sempat ada ketika Indonesia melahirkan Icuk Sugiarto hingga Susi Susanti.
“Adanya jenjang pembinaan seperti itu menyebabkan sumber daya atlet bulutangkis kita berkembang di seluruh daerah dan tidak terpusat di Jawa, dan Indonesia akan banyak melahirkan pebulutangkis andal,” tutup Winurjaya. (ari/jon)








