
DENPASAR – Sejak tiga bulan terakhir ini, petani yang sedang panen saat ini bisa tersenyum manis. Sebab, harga gabah kering panen petani mengalami kenaikan. Bahkan harga gabah kering panen Juli -Agustus lalu mencari Rp 5.832,58 per kg dan harga gabah kering giling mencapai Rp 6.760,35. Hal itu diungkapkan Ketua Komisi II DPRD Provinsi Bali Ida Gde Komang Kresna Budi via telepon, Kamis (14/9/2023).
Politisi Golkar asal Buleleng ini menjelaskan naiknya harga gabah baik kering panen maupun kering giling disebabkan oleh beberapa faktor, yakni sejumlah negara seperti India telah memberlakukan kebijakan larangan eksport demikian juga sejumlah negara eropa.
Berkurangnya pasokan beras dari sejumlah negara luar ke Indonesia termasuk Bali, tentu akan memberi dampak positif pada petani di Bali. Sehingga harga gabah kering petani meningkat dan petani bisa tersenyum.
Kresna Budi mengatakan, dibalik naiknya harga gabah kering panen maupun harga gabah kering giling memberi pengaruh pada meningkatnya harga beras dipasaran.
“Petani diuntungkan dengan naiknya harga gabah, sementara masyarakat umum merasa berat harga beras juga ikut naik,”ujarnya.
Menurut Kresna Budi, harga beras ditingkat grosir sesuai data statistik mengalami kenaikan. Sejak April 2023, harga beras sudah mengalami kenaikan, sebesar 0,42 persen secara bulanan dan 15,66 persen mengalami kenaikan secara tahunan.
Sedangkan ditingkat eceran harga beras juga ikut menguat 0,48 persen secara bulanan dan 11,34 persen secara tahunan.
“Sekarang harga beras premium naik menjadi Rp 14.000 sampai Rp 14.500 per kg, sedangan harga beras medium dari Rp 11.000 per kg, naik menjadi Rp 13.000 per kg.
Kresna Budi menyebutkan, ditengah-tengah kenaikan harga gabah dan harga beras yang kian meroket ini, supaya mampu dikontrol oleh pemerintah. Sehingga ada keseimbangan antara keuntungan yang didapat petani dari harga jual gabah dan masyarakat konsumen yang memiliki kebutuhan akan beras juga didapat.
“Jangan sampai petani panen raya bisa tersenyum manis karena harga naik, sementara konsumen beras menjerit karena harga beras meroket, jangan pernah terjadi seperti itu dan harapan kita supaya seimbang,” sergahnya.
Kresna Budi juga menambahkan, pemerintah diharapkan juga untuk memperhatikan musim kemarau kedepan yang nampaknya akan berkepanjangan. Komisi II DPRD Bali meminta pada pemerintah Provinsi Bali agar mulai melakukan antisipasi menghadapi musim kering .
Harapannya, ditengah musim kemarau yang akan berkepanjang, petani padi supaya tetap bisa bercocok tanam sehingga Bali tidak kekurangan stok beras.
Kresna Budi meminta bantuan pemerintah diturunkan dalam bentuk mesin pompa untuk memenuhi kebutuhan petani akan air, sehingga bisa tetap bercocok tanam di musim kemarau. Pemerintah juga diharapkan melakukan perbaikan terhadap saluran irigasi dan juga bisa memberikan subsidi pupuk kepada petani.
“Kami dari dulu sudah mewanti-wanti agar alokasi anggaran pada sektor pertanian dari tahun ke tahun terus ditingkatkan. Tetapi sayang, alokasi anggaran dalam APBD Bali dari setiap tahun anggaran pada sektor pertanian masih sangat minim,”pungkasnya. (arn/jon)








