
GIANYAR – Kebutuhan ikan air tawar seperti lele dan gurami di Gianyar dipasok dari Banyuwangi menyusul belum terpenuhinya kebutuhan pasar meski target produksi sudah tercapai.
Tahun 2022, realisasi ikan air tawar mencapai 1.156 ton didominasi ikan lele, udang, dan gurami.
Kabid Produksi Perikanan Air Tawar, Dinas Ketahanan Pangan dan Kelautan, Ida Bagus Gede Agung mengatakan, potensi pengembangan dan pemasaran ikan air tawar di Kabupaten Gianyar masih sangat menjanjikan.
Ia menyebutkan, penghasil ikan air tawar terbanyak ada di Kecamatan Blahbatuh mencapai 152 ton, dan Sukawati 92 ton.
“Kecamatan lain rata-rata 70 ton per tahun. Sedangkan produksi ikan yang paling banyak adalah ikan lele, udang dan gurami,” kata Ida Bagus Gede Agung, Minggu (9/4/2023).
Sementara, kelompok petani ikan di Gianyar tercatat 116 kelompok yang sebagaian besar skala rumah tangga. Terbanyak ada di Blahbatuh, disusul Sukawati, dan Payangan.
“Kecuali lele dan gurami, kekurangannya didatangkan dari Banyuwangi. Selain untuk kebutuhan pasar lokal juga untuk restoran,” jelasnya.
Sehingga, produksi ikan air tawar di Gianyar belum sampai terjual ke luar Gianyar, untuk kebutuhan lokal saja masih kurang.
Menurutnya masih sangat memungkinkan mengembanhkan lahan untuk perikanan air tawar. Sementara hingga kini luas lahan yang dikembangkan untuk perikanan air tawar baru seluas 32 hektar.
“Masih banyak lahan kosong dan ada saluran air baik sungai atau irigasi yang bisa dikembangkan untuk ikan air tawar,” jelasnya.
Produksi ikan air tawar di Gianyar baru memenuhi pasar sekitar 40%, selebihnya didatangkan dari luar kabupaten atau dari luar Bali.
“Bila ada petani yang ingin mengembangkan, sangat bagus. Pasar masih terbuka dan bersinergi dengan kelompok yang sudah berkembang,” pungkasnya. (jay)








