
DENPASAR – Munculnya kontroversial terkait batasan usia 21 tahun bagi pebulutangkis yang turun di pra-PON maupun PON XXI/2024 di Aceh dan Sumatera Utara (Sumut), sistem pertandingan dan pembagian wilayah yang diputuskan pada Mukernas PP PBSI lalu sudah dianggap selesai oleh PP. PBSI. Tidak ada perubahan bahkan Kelompok Kerja (Pokja) yang rencananya dibentuk juga dianggap tidak ada.
Seperti diutarakan Kabid Turnamen dan Perwasitan PP PBSI, Mimi Irawan, dirinya memang mengetahui soal kontroversial itu namun dirinya juga memiliki pertimbangan dan dasar tersendiri utamanya dalam menentukan batas usia.
“Tidak ada Pokja dan keputusan sudah final seperti itu berdasakan Mukernas sebelum Mukernas terakhir lalu. Jadi semuanya sudah fix. Kalau soal batasan usia itu karena memang kami dasarnya pebulutangkis muda. Kalau batas usia sudah 24 atau 25 maka pebulutangkis itu kualitasnya sudah lewat,” kata Mimi Irawan saat dikonfirmasi melalui ponsel, Senin (2/1/2023).
Sayangnya dirinya Ketika dikonfirmasi soal mau dikemanakan juara PON 2024 nantinya, Mimi tak menyebutkan dasar kuat hanya intinya PON itu bisa juga menjadi tempat para jebolan pebulutangkis Pelatnas Indonesia, tanpa menyebutkan juara PON akan dibawa kemana juaranya.
“Intinya kalau pebulutangkis usia 21 tahun itu maih memiliki perkembangan lagi sedangkan pebulutangkis usia 23 tahun sampai 25 tahun bagaimana mau dibentuk ? Kami memang mencari pebulutangkis dari akar rumput. Lihat saja Popwil batas usianya 16 tahun untuk pelajar dan Pelatwil juga 16 tahun. Ini yang harus dipahami. Di luar negeri sekarang ini banyak pebulutangkis muda sudah masuk di kejuaraan seri 1000 dan bergengsi lainnya, Kan yang berusia 23 tahun bisa turun di Sirnas C,” papar Mimi Irawan.
Di lain pihak, Ketua Umum Pengprov PP. PBSI Bali Wayan Winurjaya tetap menyayangkan hal itu karena melihat kepada nasib para pebulutangkis yang usianya diatas 21 tahun. Bahkan pebulutangkis putra dan putri Bali yang tahun 2021 lalu turun di PON Papua kini harus banting stir menjadi pelatih atau wasit di pertandingan bulutangkis.
“Kasihan mereka masih muda sudah tidak lagi menjadi atlet aktif. Padahal potensi mereka masih sangat besar untuk berkembang lagi dan masih bisa menjadi pebulutangkis besar ke depanya,” demikian Winurjaya. (ari/jon)








